Di tengah kekhawatiran terhadap Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magetan memilih jalan berbeda. Tanpa gegap gempita, penanganan yang dilakukan secara “silent”, namun justru diklaim lebih efektif lewat strategi jemput bola langsung ke peternak.
Alih-alih menunggu laporan menumpuk atau menggelar vaksinasi massal terjadwal, petugas kini bergerak cepat mendatangi satu per satu hewan ternak yang membutuhkan vaksin. Sistem ini perlahan membentuk kesadaran baru di kalangan peternak.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan Magetan, Budi Nur Rochiman, menyebut perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci keberhasilan.
“Mayoritas sudah mulai memahami bahwa vaksin itu ternyata cukup ampuh untuk mencegah PMK. Dulu sempat ada yang mau dan tidak, tapi setelah melihat yang vaksin tidak kenapa-kenapa, kesadaran itu mulai muncul,” ujarnya.
Meski begitu, Budi menegaskan kondisi kasus tidak bisa diklaim menurun secara lokal. Mobilitas ternak yang tinggi, terutama pasca Idulfitri, menjadi tantangan tersendiri.
“Kasus itu tidak bisa kita klaim menurun. Karena sekarang banyak mobilisasi ternak. Banyak laporan yang muncul itu justru dari sapi yang baru dibeli dari luar daerah,” jelasnya.
Di sinilah strategi jemput bola dimainkan. Setiap kecamatan kini memiliki satu petugas vaksinator yang siap bergerak kapan saja. Bahkan, untuk satu ekor ternak pun tetap dilayani.
“Kalau ada telepon masuk, satu pun tetap kita datangi. Tidak usah menunggu banyak. Karena beli sapi itu tidak bareng-bareng,” tegas Budi.
Pendekatan ini dipermudah dengan layanan berbasis nomor WhatsApp 08113385000 yang berfungsi sebagai call center sekaligus kartu kontrol vaksinasi. Peternak cukup mengirim data, lokasi, dan jumlah ternak, lalu petugas akan datang sesuai jadwal yang disepakati.
“Begitu ada permintaan, operator langsung teruskan ke petugas sesuai wilayah. Nanti petugas menghubungi untuk janjian kapan vaksin dilakukan,” katanya.
Model ini dinilai lebih efektif dibanding sistem lama yang berbasis jadwal desa. Pasalnya, banyak peternak yang tidak berada di rumah saat jam kerja karena pergi ke sawah.
“Kalau dijadwalkan ke desa, sering tidak ketemu orangnya. Tapi kalau mereka sendiri yang minta, pasti ada di rumah,” ungkapnya.
Dalam sehari, sekitar 20 petugas mampu melakukan lebih dari 200 vaksinasi di berbagai titik. Meski tidak dilakukan serentak dalam satu desa, jangkauan vaksinasi justru lebih luas dan cepat menyasar titik-titik rawan.
“Dengan cara ini, kita bisa menjangkau lebih banyak titik. Begitu ada ternak baru, langsung kita vaksin, tidak menunggu jadwal,” jelas Budi.
Strategi ini juga bertujuan mencegah munculnya “hotspot” penyebaran PMK. Begitu ada laporan kasus, petugas langsung bergerak membentengi wilayah sekitar.
“Jangan sampai ada hotspot. Begitu ada kasus, langsung kita tembak vaksin di sekitarnya,” tegasnya.
Menariknya, pendekatan “silent” ini juga meredam kepanikan. Peternak kini tidak lagi gegabah menjual ternaknya saat muncul isu penyakit. “Sekarang peternak sudah lebih paham. Mereka tidak panik seperti dulu, karena tahu penanganannya,” kata Budi.
Hingga April 2026, Dinas Peternakan dan Perikanan Magetan telah menerima sekitar 25 ribu dosis vaksin PMK, dengan tambahan alokasi sekitar 30 ribu dosis lagi hingga Agustus mendatang. Vaksinasi terus dikejar untuk memperkuat kekebalan ternak, terutama menjelang Iduladha yang identik dengan tingginya lalu lintas hewan.
Budi menegaskan, kunci utama keberhasilan bukan pada paksaan, melainkan kesadaran peternak itu sendiri. “Kita tidak memaksa. Harapannya, peternak sadar sendiri bahwa setelah beli sapi harus segera vaksin,” ujarnya.
Dengan strategi jemput bola yang senyap namun terukur, Magetan mencoba membuktikan bahwa pengendalian wabah tidak selalu harus gaduh. Cukup dengan respons cepat, pendekatan personal, dan kepercayaan masyarakat, penyebaran PMK bisa ditekan tanpa menimbulkan kepanikan.(Diskominfo / kontrib.skc / fa2 /


