Dari Pelatihan Sederhana ke Jambi: Tas Anyaman KUBE Menteles Magetan Kebanjiran Order

Dari balik jemari terampil ibu-ibu di Desa Panggung, Kecamatan Barat, tersimpan semangat kemandirian yang luar biasa.

Berawal dari pelatihan sederhana di tahun 2018, kini produk tas anyaman mereka yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Menteles telah melanglang buana hingga ke luar pulau Jawa.

Nama “Menteles” sendiri bukan sekadar label. Ia merupakan akronim dari sebuah filosofi mendalam: “Menganyam dengan Telaten Menuju Sukses.” Sebuah doa sekaligus prinsip kerja yang dipegang teguh oleh para anggotanya.

Perjalanan KUBE Menteles tidaklah instan. Sumiati, salah satu inisiator sekaligus penggerak Mentales, menceritakan bahwa embrio usaha ini bermula dari pelatihan yang diadakan oleh PPKH Kecamatan Barat pada 2018 silam. Kala itu, ada 40 orang yang ikut serta. Namun, konsistensi menjadi pembeda.

“Dari 40 orang itu, yang benar-benar maju hanya 10 orang. Seiring berjalannya waktu, menyusut lagi menjadi 5 orang penggerak inti dari beberapa desa seperti Blaran, Panggung,, dan Jonggrang,” kenang Sumiati.

Meski jumlah pionirnya berkurang, semangat di Desa Panggung justru menular. Tetangga sekitar mulai tertarik untuk ikut menganyam. Kini, usaha tersebut telah berkembang pesat di bawah komando Sumiati dan mampu menyerap tenaga kerja hingga 20 karyawan, yang mayoritas adalah ibu rumah tangga.

Motivasi utama Sumiati mengajak ibu-ibu di sekitarnya sederhana namun mulia: ingin membantu suami meningkatkan pendapatan keluarga tanpa harus meninggalkan kewajiban di rumah.

“Kami hanya ibu-ibu rumah tangga yang ingin memiliki pemasukan sendiri. Alhamdulillah, usaha yang dirintis sejak 2018 ini terus bertahan dan berkembang sampai sekarang,” jelasnya.

Kualitas dan ketelatenan dalam menganyam membuat produk Menteles diminati pasar luas. Tercatat, pengiriman sudah menjangkau wilayah Jawa Timur seperti Malang, Jember, Nganjuk, Tulungagung, dan Surabaya. Tak berhenti di situ, pesanan juga datang dari Jakarta, Solo, bahkan menyeberang ke Sumatra dan Jambi.

Keberhasilan KUBE Menteles tercermin dari tumpukan pesanan yang masuk. Menjelang bulan Mei mendatang, Sumiati mencatat pihaknya sudah mengantongi order sebanyak 1.500 tas dengan berbagai model dan ukuran.

Pesanan tersebut datang dari berbagai penjuru. Sebanyak 300 tas dipesan dari Jakarta, 300 dari Surabaya, dan ratusan lainnya datang dari lingkungan lokal Magetan untuk keperluan acara hajatan.
Strategi pemasarannya pun tergolong organik namun efektif, memanfaatkan media sosial Facebook dan kekuatan relasi keluarga di perantauan seperti Cikarang dan Karawang.

“Setiap menjelang Lebaran, kami biasanya buka tabungan dari hasil penjualan ini. Tahun ini, sampai Mei saja sudah ada 1.500 pesanan. Insya Allah, kami optimis bisa menyelesaikannya tepat waktu,” ujar Sumiati dengan nada yakin.

Meski sudah memiliki pasar yang stabil, Sumiati tidak ingin cepat puas. Harapan besar masih digantungkan agar usaha ini bisa berkembang lebih luas lagi, menjangkau lebih banyak pelanggan, dan tentunya memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi warga Desa Panggung.

Dengan prinsip ketelatenan yang menjadi ruh usaha, tas anyaman dari pelosok Magetan ini membuktikan bahwa dari tangan-tangan kreatif ibu rumah tangga seperti Sumiati, sebuah produk lokal mampu bersaing di kancah nasional.(Diskominfo / kontrib.tik / fa2 /

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *