Terik matahari yang menyengat tak menyurutkan semangat jajaran Badan Kerja Sama Antar-Desa (BKAD) Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan bersama jajaran pemerintah setempat dalam mengawal pelestarian seni tradisi. Lewat pawai Karnaval Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat kecamatan, BKAD Kecamatan Barat bersama Camat Barat melakukan langkah strategis untuk mereset dan merevaluasi seni tradisi guna memantik kembali geliat kebudayaan lokal.
Inisiatif ini dirancang bukan sekadar untuk membangkitkan seni ketoprak dan wayang orang yang sempat redup di Desa Purwodadi, melainkan juga memiliki misi besar yang lebih luas: mengenalkan, mendekatkan, serta menanamkan rasa cinta kebudayaan daerah kepada seluruh lapisan masyarakat di wilayah Kecamatan Barat.
Pemanfaatan momen nasional seperti panggung Karnaval Kemerdekaan RI ini pun dijadikan momentum tepat sebagai ajang rebranding budaya sekaligus unjuk gigi potensi seni lokal.
Aksi rebranding secara total ini ditandai dengan pertunjukan kolosal yang memukau ribuan warga di sepanjang rute parade. Dengan mengenakan busana adat dan kostum wayang lengkap di bawah paparan panas matahari, rombongan membawakan fragmen kolosal berlatar lakon Rama-Shinta serta figur Dewi Kunti.
Keseriusan dalam membakar spirit cinta budaya ini dibuktikan langsung oleh Camat Barat, Ari Budi. Selaku inisiator pagelaran, ia tak segan membaur dan ikut menari mengenakan kostum tokoh Dewi Kunti bersama jajaran BKAD yang turut berkostum wayang dan rela berpanas-panasan sepanjang rute karnaval.
”Tujuan utama kita tidak sekadar membangunkan kembali kejayaan seni ketoprak dan wayang orang di Desa Purwodadi yang sempat tertidur puluhan tahun. Lebih dari itu, kami ingin mengenalkan kembali kekayaan budaya kita secara menyeluruh kepada masyarakat Barat. Lewat aksi nyata turun ke jalan seperti ini, kami ingin memberikan wadah serta menyengat spirit seluruh elemen masyarakat agar senantiasa bangga, kenal, dan mencintai budaya lokalnya sendiri,” tegas Ari Budi di sela-sela kegiatan.
Kebangkitan ini membawa haru mendalam bagi para pelaku seni lokal Magetan, salah satunya Bu Menik. Sebagai sosok yang telah menekuni seni tradisi sejak usia 10 tahun dan merintis Ketoprak Suryo Budoyo bersama tokoh lokal seperti Pak Yoyok, ia menguraikan perjalanan panjang kelompok seni di Desa Purwodadi hingga akhirnya vakum.
”Dulu sebenarnya kita punya potensi besar, baik ketoprak Suryo Budoyo maupun paguyuban wayang orang di Magetan ini. Di wayang orang sendiri, sistem perannya digilir agar semua pemain menguasai pelbagai karakter, tidak monoton di satu peran saja,” tutur Bu Menik.
Mengenai penyebab meredupnya aktivitas seni selama ini, Bu Menik mengungkapkan kendala utamanya.
”Lama-kelamaan sempat hilang dan vakum karena tidak ada yang menanggap. Selain itu, masyarakat luar Magetan mungkin belum banyak yang mengenal potensi kita. Padahal dari segi kostum, pelatih, hingga sumber daya pemain, semuanya kita sudah punya sendiri di sini, tidak perlu mencari jauh-jauh keluar daerah,” jelasnya.
Terkait pemilihan lakon Ramayana (Rama-Shinta) yang diusung oleh BKAD Kecamatan Barat pada Karnaval Kemerdekaan di Magetan kali ini, Bu Menik memberikan penjelasan mendalam dari kacamata seorang seniman senior. Menurutnya, lakon tersebut membawa pesan moral yang amat relevan dengan nilai-nilai kemerdekaan.
”Inti dari tema Ramayana yang ditampilkan ini adalah simbol pemberantasan Angkara Murka, khususnya merujuk pada sosok Rahwana (Ronggo). Pesannya sangat pas dengan semangat kemerdekaan, yaitu bagaimana kebaikan dan kebenaran pada akhirnya harus menang menumbangkan kejahatan serta keserakahan,” pungkas Bu Menik.
Ke depan, BKAD Kecamatan Barat bersama Pemerintah Kabupaten Magetan berkomitmen untuk terus membuka ruang apresiasi, mendampingi pembinaan berbagai potensi kebudayaan lokal, serta mendorong setiap desa agar terus menggali keunikan budayanya masing-masing.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat identitas kebudayaan daerah, mempererat tali silaturahmi antarwarga, sekaligus menggerakkan roda ekonomi kreatif berbasis tradisi lokal di wilayah Magetan secara berkelanjutan.(Diskominfo / kontrib.tik / fa2 /



