Cerita Yanti: Beri Nilai Ekonomis dari Gedebog Pisang yang Terbuang

‎Di sekitar rumah Mbak Yanti, pohon pisang bukan pemandangan yang sulit ditemukan. Tanaman itu tumbuh di belakang rumah hingga pekarangan warga di sekitarnya. Buahnya biasa dipetik untuk dikonsumsi. Namun, setelah buah pisang diambil, ada bagian lain yang selama ini nyaris tak memiliki nilai ekonomi. Bagian itu adalah gedebog atau batang pisang.

‎Bagi sebagian orang, gedebog pisang hanya akan berakhir menjadi sampah dan membusuk di tanah. Namun, Mbak Yanti dari Desa Gulun, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, melihatnya secara berbeda. Di tangannya, gedebog pisang yang sebelumnya dibuang diolah menjadi keripik dan dijual Rp10.000 per bungkus.

‎Pisang menjadi salah satu tanaman yang banyak ditanam warga di sekitar tempat tinggal Yanti. Salah satunya pisang kekok. Selama ini, masyarakat lebih banyak mengambil manfaat dari buahnya. Buah pisang bisa dimakan langsung atau dijual. Namun, bagian batangnya tidak banyak dimanfaatkan.

‎ “Pisang kekok biasanya kan untuk dikonsumsi langsung kita,” ujarnya ditemui di stan Festival Bumdes Kecamatan Maospati, Jumat (20/8/26).

‎Padahal, setelah buah dipanen, gedebog pisang masih tersisa. Daripada dibuang begitu saja, Yanti mencoba mengolahnya menjadi sesuatu yang memiliki nilai jual. Bahan bakunya pun tidak sulit didapat. Untuk sementara, ia mengambil gedebog pisang yang tumbuh di belakang rumah. Jika masih kurang, ia bisa mendapatkannya dari pohon pisang milik tetangga.

‎ “Kalau ini kan untuk sementara di belakang rumah banyak. Tetangga juga banyak,” katanya.

‎Gagasan membuat keripik berangkat dari kondisi sederhana di lingkungan sekitar. Pisang selama ini memang memiliki nilai ekonomi. Namun, nilai tersebut terutama berada pada buahnya. Sementara batang pisang yang sudah tidak diperlukan lebih sering dibiarkan. Yanti kemudian mencoba memanfaatkannya. Bahan yang sebelumnya tidak perlu dibeli itu justru menjadi bahan utama untuk membuat makanan ringan. Di sinilah usaha kecil itu dimulai.

‎Tidak dengan mesin besar. Tidak pula dengan modal besar. Melainkan dengan memanfaatkan apa yang tersedia di sekitar rumah.

‎Enam Jam Sebelum Masuk Penggorengan

‎Membuat keripik gedebog pisang ternyata tidak cukup hanya dengan memotong batang pisang lalu menggorengnya. Ada proses panjang yang harus dilewati. Gedebog terlebih dahulu dibuka dan dipisahkan menjadi bagian-bagian. Setelah itu, bagian tersebut diiris dengan ukuran tertentu. Irisan gedebog kemudian direndam menggunakan air garam. Proses perendaman membutuhkan waktu minimal enam jam. “Setelah diiris, itu baru direndam. Masih ada direndam pakai air garam selama minimal enam jam,” ujar Yanti.

‎Setelah enam jam, irisan gedebog ditiriskan. Bahan tersebut tidak perlu direbus. Setelah cukup tiris, gedebog langsung digoreng. Dalam proses berikutnya, Yanti menggunakan campuran tepung untuk menghasilkan keripik. Dari bahan yang awalnya hanya berupa batang pisang, perlahan bentuknya berubah menjadi camilan yang siap dijual.

‎Produksi Yanti masih dilakukan dalam skala rumahan. Dalam sehari, ia biasanya hanya membuat satu adonan. Jumlahnya sekitar satu kilogram. Dari satu kilogram adonan tersebut, dihasilkan sekitar 15 bungkus keripik. Harga jualnya dipatok Rp10.000 per bungkus untuk pasar sekitar. Jika seluruh hasil produksi terjual, satu kali produksi menghasilkan omzet sekitar Rp150.000. Namun, angka tersebut belum merupakan keuntungan bersih karena masih harus dikurangi biaya minyak, tepung, bumbu, dan kemasan.

‎Skala produksi yang kecil membuat Yanti belum bisa membuat keripik dalam jumlah besar setiap hari. Ia lebih banyak memproduksi ketika ada pesanan. “Kalau ada yang pesan saya buatkan,” katanya.

‎Agar pembeli memiliki pilihan, keripik gedebog pisang dibuat dalam beberapa rasa. Saat ini ada tiga varian, yaitu rasa original, jagung manis, dan pedas manis. Semuanya dijual dengan harga Rp10.000 per bungkus. Meski masih sederhana, Yanti berusaha membuat produknya tidak sekadar menjadi makanan ringan yang unik. Ia ingin keripik tersebut bisa diterima konsumen sebagai produk UMKM. Persoalannya, pasar yang dijangkau saat ini masih terbatas.

‎Pemasaran keripik gedebog pisang buatan Yanti belum menjangkau pasar yang luas. Produk masih beredar di lingkungan sekitar. Pesanan dari masyarakat menjadi salah satu cara utama penjualan. Belum banyak produk yang dikirim ke luar daerah. Padahal, Yanti memiliki keinginan agar produknya bisa berkembang. “Pengennya sih bisa keluar kota atau keluar daerah sini,” ujarnya.

‎Harapan tersebut sekaligus menjadi tantangan berikutnya. Sebab, untuk masuk ke pasar yang lebih luas, produk tidak cukup hanya enak. Kemasan, daya tahan, kapasitas produksi, dan pemasaran juga harus diperbaiki.

‎Pemanfaatan tanaman pisang di rumah Yanti tidak berhenti pada gedebognya. Buah pisang juga dibuat menjadi keripik. Namun, produksi keripik pisang tidak bisa dilakukan setiap saat. Bahan bakunya harus tersedia, terutama pisang yang sudah tua. “Kalau pisang kan dari ujung atas sampai bawah kan bisa digunakan. Kalau pisang kan cuma buahnya saja,” katanya.

‎Selagi di desanya pohon pisang masih tumbuh dan gedebog masih mudah ditemukan, Yanti memilih melihat limbah bukan sebagai akhir dari sebuah tanaman, melainkan sebagai awal dari sebuah usaha yang memberikan harapan lebih baik.(Diskominfo / kontrib.skc / fa2 /

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *