Di bawah rindangnya daun-daun tebu yang menjulang di Desa Botok, warna kuning keemasan pernah menjadi simbol kepasrahan. Hampir 90 persen warga di desa ini mengandalkan buah waluh atau labu kuning sebagai tanaman tumpang sari di lahan tebu dan jagung. Namun, setiap kali musim panen raya tiba, kilau emas buah waluh seolah kehilangan pesonanya. Melimpahnya hasil panen memicu banjir komoditas yang membuat harga jualnya menjadi murah sekali, menyikapi hal tersebut sekelompok perempuan yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Botok memutuskan untuk tidak lagi tinggal diam.
Gerakan ini pertama kali diinisiasi oleh Niken, seorang kader lingkungan sekaligus anggota KWT Anggrek 2 Desa Botok. Gelisah melihat potensi desa yang terbuang sia-sia, Niken tergerak mencari cara agar waluh dari pola tanam tumpang sari ini memiliki daya jual tinggi.
”Kan tumpang sari, Bu. Jadi kalau jagung di atasnya, di bawahnya disebar waluh ini. Di Tempuran (Tempelak) juga banyak,” ujar Niken menceritakan kondisi melimpahnya bahan baku waluh di desanya. Botok (9/8/26).
Niken mengaku prihatin ketika melihat waluh panenan warga dihargai sangat murah oleh tengkulak, dari hal itulah kemudian timbul kreativitas dengan mengolah waluh melalui proses pembuatan berbagai ragam olahan andalannya, mulai dari dodol waluh, geplak, hingga kue lumpur.
”Kalau geplak itu diparut saja, dicampur waluh sama gula, prosesnya sama. Saya bikin panjang-panjang gini, Pak, kayak dodol,” ungkap Niken menjelaskan detail teknik olahannya.
Kreativitas Niken tak berhenti di situ. Berbagai varian jajanan tradisional berbahan dasar waluh pun sukses ia ciptakan dari dapurnya. “Tadi saya bikin olahan kue lumpur surga, geplak, dodol, biasanya juga bikin lapis, klepon, sampai candil,” tambahnya.
Olahan kreatif ini langsung mendulang nilai ekonomi yang lumayan saat dipasarkan di berbagai pameran maupun pasar lokal. “Harganya se-pack-nya itu saya kemarin di bazaar Rp10 ribu, isi 10,” tutur Niken.
Selain meningkatkan nilai jual, pengolahan ini juga menjadi jawaban atas masalah masa simpan buah segar. Olahan waluh produksi KWT ini memiliki ketahanan produk yang cukup lama. “Dua minggu masih tahan di suhu ruang, kalau di kulkas bisa tahan sampai sebulan,” pungkas Niken.
Inovasi luar biasa yang dimotori oleh Niken dan KWT ini mendapat apresiasi tinggi dari Kepala Desa Botok, Sungkono. Ia mengungkapkan rasa bangga atas kepedulian dan kejelian para ibu KWT dalam mengoptimalkan potensi lokal yang ada.
”Saya sangat mengapresiasi inovasi yang dilakukan oleh ibu-ibu KWT ini. Langkah ini tidak hanya mampu menambah penghasilan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga, tetapi juga menjadi solusi nyata dalam memanfaatkan potensi serta hasil bumi desa secara optimal,” ujar Sungkono.
Sungkono pun berharap agar produk-produk olahan waluh karya warga Botok ini tidak berhenti di pameran atau pasar lokal saja.
”Ke depan, saya sangat berharap produk olahan waluh ini pemasarannya dapat diperluas lagi, baik ke ritel modern maupun pasar nasional, sehingga Desa Botok bisa semakin dikenal luas melalui produk kuliner khasnya,” tambahnya optimistis.
Inovasi dari KWT Desa Botok ini bukti bagaimana kreativitas mampu meretas garis kemiskinan dan ketergantungan tengkulak. Dari tanaman sampingan yang sempat dianggap beban saat panen raya, waluh kini bertransformasi menjadi penopang ekonomi keluarga dan motor penggerak kemandirian wanita tani di Desa Botok.
Senyum para petani kini tak lagi redup saat panen tiba, sebab di tangan para ibu, buah waluh telah menemukan kembali nilai emasnya yang sejati.(Diskominfo / kontrib.tik / fa2 /




