Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Magetan menggelar grand final pemilihan Duta Baca 2026 tingkat SLTA. Menghadirkan 10 finalis terbaik dari total 169 peserta, kegiatan ini menjadi upaya pemerintah daerah dalam menyiapkan generasi literat yang mampu menggerakkan budaya baca di masyarakat.
Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Magetan, Endang Ambarwati, menegaskan bahwa ajang ini rutin dilaksanakan setiap tahun untuk mencari kader literasi.
“Hari ini sudah grand final, 10 orang yang masuk grand final dari jenjang SLTA. Kegiatan ini selalu kita lakukan untuk mencari generasi cerdas sebagai duta yang nanti menggerakkan literasi di satuan pendidikan, keluarga, maupun masyarakat,” ujarnya.
Endang menjelaskan, antusiasme peserta sangat tinggi dengan keterlibatan siswa dari seluruh SMA sederajat, baik negeri maupun swasta di Magetan. Ia menilai para finalis memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan daerah lain.
“Anak-anak ini sangat cerdas, public speaking-nya bagus, dan mampu menjawab pertanyaan dengan baik. Mereka memang gemar membaca dan aktif dalam kegiatan edukasi,” tambahnya.
Lebih lanjut, pihaknya akan memilih tiga peserta terbaik yang akan bertugas sebagai Duta Baca Magetan. Para duta tersebut diharapkan mampu menjadi motivator dalam mengkampanyekan literasi di berbagai lini kehidupan.
“Literasi tidak hanya membaca dan menulis, tetapi juga mengeksplorasi potensi di semua bidang. Harapannya, masyarakat Magetan semakin maju dan kesejahteraannya meningkat,” jelas Endang.
Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan, Pemanfaatan Arsip dan Pengembangan Perpustakaan, Anik Ratnasari, menambahkan bahwa proses seleksi telah berlangsung sejak Februari 2026.
“Dari 169 peserta, disaring menjadi 60 peserta, lalu menjadi 10 besar yang hari ini mengikuti grand final. Seleksi meliputi administrasi, video visi misi, hingga presentasi langsung,” ungkapnya.
Menurut Anik, para Duta Baca nantinya memiliki tanggung jawab besar, mulai dari mengkampanyekan budaya membaca hingga menghidupkan pojok baca digital (Pocadi).
“Mereka akan turun ke sekolah, komunitas, bahkan ruang publik seperti kafe untuk mengajak generasi muda lebih dekat dengan literasi,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya inovasi dalam menghadapi tantangan era digital. “Peran gadget memang dominan, tetapi justru di situ tantangan bagi Duta Baca untuk mempromosikan literasi secara kreatif. Mereka harus menjadi role model dan penggerak literasi di Magetan,” pungkasnya.(Diskominfo / kontrib.skc / fa2 /


