Pemandangan syahdu dan berbeda terlihat di lereng Gunung Lawu, Magetan, Jawa Timur, pada malam 1 Suro atau 1 Muharam 1448 Hijriah. Ratusan lampu senter milik pendaki tampak berkelap-kelip membentuk garis cahaya membelah kegelapan di sepanjang jalur pendakian Cemorosewu menuju puncak gunung yang berada di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah tersebut.
Malam pergantian tahun Jawa selalu menjadi momen istimewa di Gunung Lawu. Lebih dari sekadar destinasi favorit pendakian, gunung setinggi 3.265 meter di atas permukaan laut ini memiliki nilai kultural dan spiritual yang kuat bagi masyarakat, yang menjadikan malam 1 Suro sebagai waktu yang tepat untuk melakukan tirakat dan refleksi diri.
Berdasarkan data tiket masuk, sekitar 500 pendaki tercatat memasuki kawasan Gunung Lawu melalui jalur Cemorosewu pada Senin (15/6/2026) malam. Mereka datang dari berbagai daerah, membawa semangat yang sama: menyelami keheningan malam 1 Suro sekaligus menyongsong fajar pertama di puncak Lawu.
Asper BKPH Lawu Selatan, Mulyadi, menyampaikan bahwa jalur Cemorosewu terus menjadi primadona karena medannya yang cukup jelas dan menjadi rute terpendek menuju puncak.
“Jalur Cemorosewu memiliki panjang sekitar 6,5 kilometer. Pendaki biasanya menempuh perjalanan antara lima hingga delapan jam dengan ritme santai untuk menikmati suasana alam,” ujarnya.
Meskipun volume kunjungan meningkat, pengelola memastikan para pendaki tetap mematuhi seluruh aturan konservasi dan keselamatan. Aparat kepolisian setempat juga bersiaga melakukan pemantauan agar situasi tetap kondusif, aman, dan nyaman bagi seluruh pengunjung.
Kapolsek Plaosan, AKP Agus Budi, turut mengimbau para pendaki untuk senantiasa mengedepankan etika, menjaga kelestarian alam, serta merawat rasa saling menghormati di antara sesama pendaki.
“Kami berharap para pendaki menjadikan momen ini sebagai ruang untuk saling bersilaturahmi dan menjaga ketertiban, terutama saat berada di titik-titik istirahat maupun di kawasan puncak yang padat,” kata Agus.
Bagi para pendaki, perjalanan di malam 1 Suro ini memang bukan sekadar adu cepat mencapai puncak. Ini adalah tentang menikmati proses, merenungkan perjalanan hidup di tengah kebesaran alam, dan menyambut tahun baru Jawa dengan kedamaian. Di tengah pelukan suhu dingin pegunungan, ratusan titik cahaya yang bergerak perlahan itu menjadi simbol harmonisnya petualangan fisik dan perjalanan spiritual di atap Pulau Jawa.(Diskominfo / kontrib.yan / fa2 /


