Mengintip Keteguhan Bu Minarti, Menjaga Keaslian Kuliner  Rangin Khas Dukuh Durenan

 Dari sudut perkampungan di Dukuh Durenan, Desa Durenan, Kecamatan Sidorejo, kepulan asap tipis membumbung dari sebuah tungku sederhana. Aroma harum kelapa parut panggang yang bercampur dengan gurihnya tepung beras langsung menyergap penciuman siapa pun yang melintas. Di balik kemudi usaha tersebut, ada sosok Ibu Minarti (50), seorang ibu dari empat anak yang telah mendedikasikan separuh usianya untuk melestarikan kuliner tradisional khas Durenan ini.

Bagi Bu Minarti, Rangin bukan sekadar urusan dapur, melainkan sejarah panjang keluarga. Ia telah menekuni usaha ini sejak 21 tahun yang lalu. Selama lebih dari dua dekade, ia menjadi saksi bagaimana tren kuliner datang dan pergi, namun ia tetap bergeming dengan resep klasiknya.

“Saya mulai jualan saat anak-anak masih kecil. Sekarang sudah 21 tahun berjalan. Kuncinya hanya satu: jujur dengan bahan. Kalau kita tidak curang dengan kualitas, pelanggan pun tidak akan lari,” ungkap Bu Minarti.

Keberhasilan Bu Minarti mempertahankan eksistensi Rangin Durenan tak lepas dari dukungan sang suami. Di dapur mereka yang bersahaja, kesibukan dimulai sejak pagi buta. Tak tanggung-tanggung, demi mengejar target produksi, pasangan suami-istri ini mengoperasikan 12 tungku tradisional dan 2 oven secara bersamaan.

Lincahnya jemari Bu Minarti memindahkan cetakan dari satu tungku ke tungku lainnya menjadi pemandangan harian yang luar biasa. Sang suami berbagi peran dengan memastikan api tetap stabil dan menyiapkan bahan baku, sehingga setiap pesanan dapat selesai tepat waktu tanpa mengurangi kualitas rasa yang sudah melegenda.

Satu hal yang unik dari usaha Bu Minarti adalah tidak adanya barang yang dipajang untuk pembeli dadakan. Hal ini dikarenakan seluruh produksi hariannya sudah habis terjual bahkan sebelum adonan dibuat.

“Di sini tidak pernah ada stok. Semua yang saya buat hari ini adalah pesanan yang sudah masuk sejak seminggu sebelumnya. Saya ingin memastikan setiap pelanggan mendapatkan Rangin yang benar-benar segar, jadi saya buat sesuai daftar antrean saja,” tegasnya.

Kelezatan Rangin Bu Minarti tidak hanya memikat lidah warga lokal Magetan saja, namun telah melintasi tapal batas provinsi. Tercatat, pembeli terbanyak justru berasal dari daerah Jawa Tengah. Rasa Gurih dan harga yang terjangkau dari Rangin bu Minarti ini membuat banyak pelanggan setia dari provinsi tetangga rela mengantre jauh-jauh hari.

Perjalanan 21 tahun tersebut bukannya tanpa rintangan. Belum lama ini, Bu Minarti sempat berada di titik kebingungan saat harga kelapa melonjak drastis. Namun, ia memilih untuk tetap mempertahankan harga dan kualitas.

Ia tidak ingin mengurangi takaran kelapa yang menjadi “nyawa” dari gurihnya Rangin Durenan.

“Sempat bingung sekali karena kelapa itu jantungnya Rangin. Tapi saya pilih ambil untung sedikit sekali, yang penting usaha jalan terus dan rasa tidak berubah,” kenangnya.

Keteguhan Bu Minarti membuahkan hasil manis. Dalam kondisi normal, ia mampu memproduksi antara 60 hingga 70 pack Rangin per harinya. Puncaknya terjadi pada momen hari raya Idul Fitri kemarin, di mana pesanan tembus di angka 100 pack sehari.

Meski usahanya sudah dikenal luas lewat sistem pesanan, Ibu Minarti masih menyimpan satu impian besar. Di sela kesibukannya mencetak adonan, ia kerap memandang halaman rumahnya dengan penuh harap.

Ia bermimpi suatu saat nanti memiliki toko kecil-kecilan di depan rumahnya. Bukan sekadar bangunan, namun sebuah ruang display yang layak di mana ia bisa memamerkan hasil produksinya agar lebih dikenal secara luas oleh orang-orang yang melintas, tanpa harus membuat calon pembeli baru kecewa karena tidak ada stok di tempat.

“Inginnya nanti punya toko kecil di depan rumah. Biar kalau ada yang lewat, mereka bisa lihat langsung hasilnya dan Rangin ini makin dikenal banyak orang. Jadi tidak hanya yang sudah pesan saja yang bisa menikmati,” tutupnya.

Bagi Bu Minarti, mempertahankan keotentikan adalah caranya menghargai pelanggan yang telah setia menanti dalam antrean panjang selama seminggu. Dari sudut Dukuh Durenan inilah, tradisi tidak hanya dipanggang di atas api, tetapi juga dijaga dengan hati.(Diskominfo / kontrib.tik / fa2 /

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *