Di saat fajar belum sepenuhnya menyingsing di ufuk timur Desa Getasanyar, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan, kepulan asap tebal sudah membubung tinggi dari area sekitar sendang (mata air) desa. Suara bising gesekan sutil besi dengan wajan raksasa beradu dengan gemercik air yang mengalir jernih. Namun, ada yang tak biasa dari pemandangan dapur umum dadakan ini.
Tidak ada canda tawa ibu-ibu yang menyiangi sayur dan sibuk meracik bumbu. Di sini, dalam ritual Bersih Sendang Bulan Suro yang telah berlangsung ratusan tahun, seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari aksi bersih-bersih, area dapur, hingga acara ritual utama, sepenuhnya didominasi dan hanya dihadiri oleh kaum laki-laki.
Sebuah pemandangan langka di mana kaum pria memegang kendali penuh, mulai dari memotong daging, meracik bumbu tradisional, menyalakan tungku kayu, hingga menyajikan hidangan tanpa keterlibatan satu pun wanita.
Alasan di balik sterilisasi kaum hawa dari ritual sakral ini bukan tanpa sebab. Sesepuh sekaligus pamong desa senior setempat, Ibnu Amirudin, mengungkapkan bahwa hal ini berkaitan erat dengan peran kepemimpinan dalam tatanan keluarga, tanggung jawab, dan adat istiadat yang luhur.
”Karena begini, karena laki-laki itu kan kepala keluarga. Ya, karena dari dulu memang seperti itu, dari dulu seperti itu,” ungkap Ibnu Amirudin menegaskan landasan tradisi tersebut.
Menurut pria yang telah mengabdi lebih dari 40 tahun sebagai pamong desa ini, sejak pertama kali ritual digelar, wilayah di sekitar mata air purba ini memang menjadi kawasan yang steril dari keberadaan perempuan selama prosesi adat berlangsung.
”Dulu enggak pernah perempuan yang masuk. Enggak, enggak. Dari dulu, dari nenek moyang kita, semenjak nguri-nguri (melestarikan) sumber sendang kehidupan ini,” imbuhnya.
Mata air yang menjadi pusat ritual ini memiliki nama yang penuh makna mendalam: Sendang Kauripan. Sesuai dengan namanya yang berarti ‘sendang kehidupan’, tempat ini menyimpan berkah luar biasa yang jangkauan manfaatnya melampaui batas administratif desa.
”Sendang Kauripan namanya. Bisa menghidupi seluruh warga Desa Getasanyar, bahkan Magetan,” tutur Ibnu Amirudin dengan nada bangga.
Meskipun secara pemanfaatan harian airnya mengairi wilayah Dusun Getas (Kasun 1) dan Dusun Blantren (Kasun 2) untuk sektor pertanian dan domestik, secara filosofis dan jangkauan besarnya, Sendang Kauripan diakui sebagai salah satu penyangga ketersediaan air yang menghidupi masyarakat di wilayah Kabupaten Magetan secara lebih luas.
Ibnu Amirudin kembali mengingatkan bahwa seluruh jerih payah kaum pria yang berpeluh keringat di depan tungku memasak dan memanjatkan doa di sendang adalah bentuk komunikasi spiritual dan rasa terima kasih yang mendalam kepada Sang Pencipta.
”Ini sebagai pertanda puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah sumber yang telah diberikan kepada kita semua. Perlambangnya ada di sini, titiknya ada di sini. Tapi sumbernya sendiri itu mulai dari belek (mata air kecil), mengalir dari gunung, lalu keluar dan dimanfaatkan di sini,” pungkasnya.
Puncak ritual ini menyajikan pemandangan yang sarat akan nilai spiritualitas dan kebersamaan. Acara dimulai ketika masyarakat desa, khususnya kaum pria lintas generasi, mulai datang berduyun-duyun memadati area Sendang Kauripan. Mereka datang dengan memikul atau menggendong sesaji tumpeng lengkap yang telah disiapkan dengan khidmat dari rumah masing-masing.
Sesampainya di area sendang yang teduh, deretan tumpeng diletakkan berjajar rapi. Suasana seketika berubah hening dan magis saat sesepuh desa mulai memimpin jalannya ritual dengan membacakan untaian doa serta mantra selamatan.
Setelah doa selesai dipanjatkan, penutup tumpeng kemudian dibuka secara serentak. Prosesi pembukaan tumpeng ini bukan sekadar aspek teknis, melainkan sebuah tradisi simbolis yang menandakan bahwa warga secara tulus menerima doa-doa yang telah dibacakan.
Atmosfer kehangatan langsung terasa begitu ritual doa usai. Ratusan warga yang hadir langsung duduk melingkar, melebur tanpa sekat, untuk makan bersama menikmati hidangan gulai kambing yang dimasak oleh kaum pria sejak subuh. Uniknya, kebersamaan tidak berhenti di situ; sisa tumpeng sesaji yang penuh berkah tersebut kemudian dibawa pulang ke rumah masing-masing untuk dinikmati bersama anggota keluarga lainnya.
Keunikan tradisi dan pesona alam yang dimiliki Sendang Kauripan ini turut mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kecamatan Sidorejo. Camat Sidorejo, Budi Andriana, melihat adanya peluang besar untuk mengembangkan kawasan konservasi air ini agar manfaatnya bisa dirasakan secara lebih luas, tidak hanya setahun sekali saat ritual adat.
”Lokasi sendang ini sangat strategis karena berada di ketinggian dan diapit oleh panorama sawah serta ladang yang sangat indah. Ini memiliki potensi besar untuk dikelola lebih lanjut menjadi destinasi wisata baru, jadi tidak sekadar tempat untuk melaksanakan kegiatan bersih desa saja,” ujarnya.
Menurutnya, perpaduan antara kearifan lokal yang kuat, keunikan budaya keterlibatan pria di dapur, serta lanskap pemandangan alam khas lereng Gunung Lawu yang memukau dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan luar daerah jika dikemas dengan konsep ekowisata.
Kolaborasi antara pemerintah desa dan adat lokal terlihat kental dalam pelestarian tradisi ini. Kepala Desa Getasanyar, Angga Suprapto, menegaskan bahwa ritual ini merupakan agenda sakral tahunan yang memegang peranan penting bagi roda kehidupan dan perekonomian masyarakat yang mayoritas bergantung pada sektor agraris.
”Acara ini adalah acara tahunan yang wajib dilakukan sebagai wujud syukur kita atas rezeki air yang melimpah ruah, yang bisa menghidupi seluruh masyarakat Getasanyar,” ujar Angga Suprapto.
Menurutnya, keberadaan sumber air yang terjaga dengan baik ini berdampak langsung pada sektor pertanian desa. “Berkat aliran air dari sendang ini, tanaman warga jadi subur, serta mampu menghasilkan tanaman dan buah-buahan yang bagus,” tambahnya.
Tradisi Suro Bersih Sendang Kauripan di Desa Getasanyar, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan ini menjadi potret nyata bagaimana masyarakat di Getasanyar berhasil mengawinkan pelestarian alam dengan keteguhan adat.
Di mana pundak laki-laki, sebagai kepala keluarga, bertanggung jawab penuh memimpin doa dan ikhtiar untuk memastikan urat nadi kehidupan seluruh warga desa hingga wilayah Magetan tetap mengalir abadi.(Diskominfo / kontrib.tik / fa2 /






