Desa Ngelang di Kabupaten Magetan telah lama hidup berdampingan dengan ancaman banjir. Setiap musim hujan, terutama ketika curah hujan tinggi terjadi dari wilayah hulu hingga hilir, air kerap meluap dan merendam permukiman warga. Dulu, warga menghadapi bencana secara spontan, tanpa koordinasi, tanpa sistem, dan sering kali tanpa arah yang jelas. Dalam situasi darurat, banyak orang datang membantu, tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan terlebih dahulu.
Mariyono adalah salah satu warga yang mengalami langsung kondisi tersebut. Ia menyaksikan bagaimana kepedulian masyarakat yang besar justru tidak berjalan efektif karena tidak terorganisir. Warga bergerak sendiri-sendiri, tanpa komando, sehingga bantuan sering tidak tepat sasaran. Bahkan, dalam beberapa situasi, keterlambatan penanganan membuat korban semakin rentan.
Dari pengalaman itulah, Mariyono menyadari bahwa persoalan utama bukan kurangnya kepedulian, melainkan ketiadaan sistem yang mampu mengatur kepedulian tersebut
“Dulu kalau banjir, kami semua bergerak sendiri-sendiri. Tidak ada komando, tidak tahu harus mulai dari mana,” ujar Mariyono saat ditemui dalam kegiatan pemberdayaan kapasitas desa tangguh oleh Poltekkes Kemenkes Surabaya dan Forum PRB Magetan, Kamis (30/4/26).
Kesadaran itu mendorongnya mengambil langkah nyata. Ia berkoordinasi dengan pemerintah desa dan mengajak warga membentuk kelompok relawan. Dari diskusi sederhana, lahirlah gagasan membangun sistem penanganan bencana berbasis masyarakat. Inilah cikal bakal terbentuknya Destana (Desa Tangguh Bencana) di Ngelang. Meski berawal dari keterbatasan, langkah ini menjadi titik balik penting dalam menghadapi banjir.
Tantangan besar langsung muncul setelah relawan terbentuk yaitu minimnya peralatan. Tanpa perahu dan alat evakuasi standar, warga harus mengandalkan kreativitas. Mereka menggunakan gedebok pisang sebagai alat bantu evakuasi darurat. Tidak berhenti di situ, Mariyono menggagas pembuatan rakit dari drum bekas yang diikat dengan tambang dan diberi pijakan bambu. Inovasi sederhana ini terbukti lebih stabil dan mampu mengangkut beberapa orang sekaligus.
Peristiwa banjir besar tahun 2007 menjadi pengalaman paling membekas. Saat itu, hampir seluruh desa terendam dan warga harus mengungsi secara massal dengan fasilitas terbatas. Kerugian ekonomi sangat besar—hasil panen hilang dan ternak hanyut. Dalam kondisi kacau itu, Mariyono tetap fokus mengevakuasi warga rentan seperti lansia dan ibu hamil, meski ia sendiri menghadapi dilema pribadi mencari keluarganya di tengah kegelapan.
Seiring waktu, pembentukan Destana membawa perubahan signifikan. Penanganan bencana mulai dilakukan secara terstruktur. Relawan melakukan pendataan kelompok rentan hingga tingkat RT, sehingga proses evakuasi menjadi lebih cepat. Selain itu, mereka mengembangkan sistem prediksi berbasis tanda-tanda alam dan kondisi hulu. Relawan tidak lagi menunggu air datang, tetapi bergerak sebelum bencana terjadi.
Pemetaan wilayah rawan juga menjadi bagian penting. Dengan mengetahui titik-titik yang lebih dulu terdampak, relawan dapat menyusun strategi evakuasi yang lebih efektif. Di sisi lain, upaya mitigasi dilakukan melalui usulan pembangunan fisik seperti peninggian jalan, tanggul, dan pengelolaan pintu air. Kini, sejumlah pintu air diawasi secara rutin untuk mengurangi risiko masuknya air ke permukiman.
Perkembangan Destana juga terlihat dari peningkatan fasilitas. Peralatan kini lebih lengkap, mulai dari dapur umum, genset, hingga perlengkapan evakuasi. Namun bagi Mariyono, peralatan bukanlah faktor utama. Ia menekankan bahwa kesiapan sumber daya manusia jauh lebih penting. Karena itu, ia kini fokus pada regenerasi dengan melibatkan generasi muda dan kader masyarakat.
Nilai utama yang terus dijaga oleh Mariyono dan timnya adalah keikhlasan. Relawan bekerja tanpa imbalan, digerakkan oleh kepedulian dan tanggung jawab sosial. Ia percaya bahwa kepedulian harus diiringi dengan kemampuan mengoordinasikan tindakan agar benar-benar bermanfaat.
“Relawan itu bukan soal dibayar atau tidak, tapi soal keikhlasan dan kepedulian terhadap sesama,” pungkasnya.
Kini, Desa Ngelang telah berubah. Banjir mungkin masih datang, tetapi tidak lagi menimbulkan kepanikan seperti dahulu. Warga lebih siap, lebih terorganisir, dan lebih tangguh. Pengalaman ini membuktikan bahwa ketika masyarakat bersatu dan membangun sistem yang kuat, bencana bukan lagi sekadar ancaman, melainkan tantangan yang bisa dihadapi bersama.(Diskominfo / kontrib.skc / fa2 /


