Siapa sangka, berawal dari keputusasaan akibat stok jamur tiram yang menumpuk saat pandemi Covid-19, saat distribusi jamur segar mandeg total karena konsumen tidak bisa membeli secara langsung, dan banyak pelaku usaha yang tumbang. Namun, bagi Bharata (45), pengusaha jamur tiram asal Desa Karangsono, Magetan, krisis itu justru menjadi ladang kreativitas. Ia berhasil melahirkan brand lokal Owalah Jamur Krispi atau yang lebih dikenal dengan Keripik OJK.
“Waktu itu stok melimpah tapi tidak ada pembeli. Kalau dibiarkan, jamur-jamur ini pasti busuk dan terbuang sia-sia,” kenang Bharata mengenai awal mula idenya mengolah jamur segar menjadi keripik agar memiliki masa simpan lebih lama.
Keberhasilan Bharata mengolah jamur “penyelamat” yang merupakan “anak kandung” dari situasi sulit saat pandemi ini, kini membuahkan hasil manis. Jika dulu ia bingung karena jamur segarnya tidak laku, kini ia justru sibuk memenuhi permintaan dari berbagai wilayah.
Sementara Cerita di balik nama “OJK” ini tergolong sangat unik dan organik. Bharata mengungkapkan bahwa ide awal nama tersebut muncul saat ia sedang berada di sebuah bank dan melihat logo Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Awalnya saya melihat di bank ada tulisan OJK. Saya pikir, singkatan ini sangat kuat dan mudah diingat. Saya ingin punya brand dengan singkatan yang sama,” ujar Bharata saat berbincang mengenai asal-usul usahanya.
Namun, pencarian kepanjangan dari huruf “O” tersebut sempat membuatnya bongkar pasang ide. Ia sempat mempertimbangkan nama Oh Jamur Krispi, On Jamur Krispi, hingga Olahan Jamur Krispi.
Keputusan final jatuh pada kata “Owalah” bukan tanpa alasan. Hal ini bermula dari reaksi spontan rekan-rekan dan calon pembelinya saat itu.
“Setiap saya minta pendapat ke teman-teman, mereka selalu ngomong: ‘Owalah… Jamur Krispi’. Ada kesan awal yang seolah merendahkan atau menganggap remeh, tapi justru itu yang bikin mereka selalu ingat,” jelas Bharata.
Baginya, kata “Owalah” mewakili ekspresi keterkejutan sekaligus pengakuan. Orang-orang awalnya meragukan jamur tiram bisa menjadi camilan yang enak, namun setelah mencoba, mereka akan berucap “Owalah” sebagai bentuk kekaguman atas rasanya. Nama OJK pun dipilih sebagai simbol transformasi dari bahan pangan biasa menjadi produk bernilai tinggi.
Daya tahan produk yang lama dan rasa yang konsisten membuat Keripik OJK diterima oleh lidah konsumen internasional. Melalui sistem pemasaran online dan jejaring pengiriman, produk asli Karangsono ini telah dikirim ke beberapa negara.
“Alhamdulillah, sekarang produk kami tidak cuma diputar di Magetan atau Jawa Timur saja. Keripik OJK sudah terjual sampai ke luar negeri, memenuhi permintaan para pelanggan disana yang rindu camilan khas Indonesia,” tambah Bharata
Apa yang membuat Keripik OJK mampu bersaing hingga pasar global? Ada tiga faktor utama yang bisa dipelajari yaitu,
Integrasi Produksi: Bahan baku dipetik langsung dari budidaya Barata Thani Jamur, sehingga kesegarannya terjamin sebelum masuk penggorengan.
Resep Anti-Gagal: Teknik pengolahan yang membuat keripik tetap renyah tanpa bau apek, meski dikirim melalui perjalanan jauh lintas negara.
Strategi Branding: Nama yang ikonik dan “nyeleneh” membuat konsumen mudah melakukan repeat order.
Meski produknya sudah melanglang buana hingga mancanegara, Bharata memiliki visi besar agar produk yang lahir dari masa sulit ini bisa mengangkat nama daerahnya di kancah yang lebih luas.
“Harapan saya, OJK ini semakin dikenal luas sebagai brand asli dari Magetan. Saya ingin keripik ini menjadi salah satu kebanggaan daerah yang membuktikan bahwa produk lokal Magetan punya kualitas internasional,” pungkasnya.(Diskominfo / kontrib.tik / fa2 /

