Senyum semringah terpancar dari wajah Mbah Inem (68), warga RT 09/RW 02, Dusun Turus, Desa Ngumpul, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan. Nenek lansia yang kini tinggal seorang diri setelah suaminya meninggal dunia dua bulan lalu tersebut akhirnya bisa kembali melihat dengan jelas berkat bantuan kacamata gratis yang diterimanya.
Mbah Inem, yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani, sebelumnya terpaksa bertahan selama lebih dari tiga tahun dengan kacamata lamanya yang sudah buram dan tergores. Di tengah keterbatasan ekonomi dan duka pascapeninggalan sang suami, membeli kacamata baru bukanlah hal yang mudah untuk dijangkau.
Kendala penglihatan itu kerap menyulitkan rutinitas harian Mbah Inem, terutama saat menghadiri kegiatan pengajian rutin di desanya. Pandangan yang kabur membuat matanya cepat lelah dan pusing saat harus membaca ayat-ayat Al-Qur’an maupun buku doa.
”Alhamdulillah, senang sekali bisa dapat kacamata baru. Kacamata yang lama sudah lebih dari tiga tahun dipakai dan buram, jadi kalau malam buat pengajian atau membaca rasanya pusing dan mata cepat lelah,” ungkap Mbah Inem ketika ditemui dirumahnya ,Kamis ( 5/11)
Bantuan kacamata ini disalurkan melalui Program I SEE yang diinisiasi oleh Yayasan Para Mitra Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Kecamatan Barat. Program tersebut menjangkau 69 lansia di Kecamatan Barat untuk membantu meningkatkan kemampuan penglihatan, kemandirian, serta kualitas hidup masyarakat rentan.
Camat Barat, Ari Budi Astuti, menyampaikan apresiasi mendalam atas kolaborasi ini. Ia menjelaskan bahwa penyerahan bantuan kacamata tersebut merupakan buah dari inovasi pelayanan kesehatan yang tengah digalakkan di wilayahnya, yakni program Barat Cling.
”Pertama, saya ucapkan terima kasih kepada Yayasan Paramitra yang mendukung Kecamatan Barat untuk sehat mata. Pemberian kacamata kepada 69 warga lansia ini merupakan output dari kegiatan inovasi kami, Barat Cling. Ini adalah hasil screening mata oleh kader yang ditindaklanjuti oleh puskesmas. Setelah dicek dan ketahuan kebutuhannya, Penanggung Jawab Program dari Puskesmas Rejomulyo mengajukan bantuan ke Yayasan Paramitra. Kebetulan enam desa yang mendapat bantuan ini semuanya berada di wilayah Puskesmas Rejomulyo,” jelas Ari Budi
Lebih lanjut, dia menggarisbawahi keistimewaan Desa Ngumpul tempat tinggal Mbah Inem yang secara resmi telah ditetapkan melalui SK sebagai Desa Sehat Mata Inklusi.
”Desa Ngumpul sendiri telah ditunjuk sebagai desa sehat mata inklusi karena memang ditemukan banyak warganya yang mengalami gangguan penglihatan. Pemerintah Desa mendukung penuh hingga terbit SK Penetapan. Desa Ngumpul menjadi satu-satunya desa di Kecamatan Barat yang memelopori kepedulian kesehatan mata dengan status desa inklusi mata ini. Harapannya, langkah ini nanti bisa disusul oleh desa-desa lainnya,” tambahnya.
Sementara itu, Rully Budiyanto, selaku fasilitator dari Yayasan Para Mitra Indonesia yang memberikan bantuan ini, menyampaikan bahwa pemberian bantuan di Desa Ngumpul tempat tinggal Mbah Inem memiliki bobot strategis karena desa tersebut telah mendeklarasikan diri sebagai Desa Sehat Mata Inklusi. Sebanyak 20 lansia di desa ini tercatat sebagai penerima manfaat.
Ia menegaskan, program ini bertujuan memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat dalam mengakses pelayanan kesehatan mata, sekaligus memastikan kelompok rentan seperti lansia dan penyandang disabilitas mendapatkan bantuan yang merata.
Kisah Mbah Inem menjadi potret nyata bahwa intervensi sosial yang tepat sasaran mampu menyentuh langsung mereka yang benar-benar berhak dan membutuhkan.
Di tangan pihak-pihak yang peduli, bantuan sederhana seperti sepasang kacamata baca menjelma menjadi secercah harapan besar, mengembalikan kemandirian, serta merajut kembali kualitas hidup warga usia lanjut.(Diskominfo / kontrib.tik / fa2 /


