Cerita Handono, 76 Tahun Menjaga Warisan Rasa Jeruk Pamelo di Desa Tamanan.

Di bawah rindangnya pohon jeruk pamelo di Desa Tamanan, Kabupaten Magetan, sosok Handono berjalan perlahan menyusuri kebunnya. Tangannya sesekali mengusap daun dan buah yang menggantung lebat. Meski usianya tak lagi muda, ketelatenannya tak berubah. Sudah 76 tahun ia mengabdikan hidupnya sebagai petani jeruk pamelo. “Mulai tahun 50-an,” ujar Handono saat ditemui di kebunnya Minggu (4/5/26). Sejak kecil ia telah mengenal dunia pertanian, mengikuti jejak orang tuanya yang lebih dulu menanam jeruk. Dari situlah, kecintaannya pada tanaman pamelo tumbuh dan bertahan hingga kini.

Dalam perjalanannya, Handono telah melewati berbagai fase perkembangan jeruk pamelo di Magetan. Ia mengenang, pada masa awal, varietas yang banyak ditanam adalah jenis nambangan. “Menurut cerita bapak saya dulu jenis nambangan itu aslinya dari Madiun, lalu dibawa ke sini dan dikembangkan. Sampai saat ini jenis itu jadi varitas unggulan di Magetan,” tuturnya.

Berbeda dengan sekarang, pada masa itu pemasaran jeruk masih sangat terbatas. Kini, kondisi telah berubah jauh. Jeruk pamelo Magetan sudah dikenal luas hingga menembus pasar kota besar seperti Jakarta dan Bali.

 “Dulu paling hanya sekitar Madiun. Transportasi masih pakai dokar sama cikar,” katanya.

Di kebunnya saat ini, Handono menanam berbagai varietas jeruk, mulai dari adas duku, bali merah, hingga jenis sri nyonya. Namun, ia mengakui, jenis adas duku menjadi yang paling diminati masyarakat. “Sekarang yang paling banyak dicari adas duku,” ujarnya.

Ia menjelaskan, keunggulan jeruk stuku terletak pada rasa yang manis namun tetap segar.

“Manis tapi ada segernya, airnya banyak, warnanya merah,” jelasnya.

Meski memiliki kualitas unggul, perawatan jeruk pamelo tidak bisa dianggap mudah. Handono menekankan pentingnya kecukupan air.

 “Kalau kurang air, buah bisa pecah,” katanya.

Selain itu, ancaman hama dan penyakit juga menjadi tantangan serius. Ia bahkan menyebut hampir tidak ada pohon yang benar-benar bebas dari serangan hama. “Lalat buah sama jamur itu yang paling sulit,” ungkapnya. “Semua pohon pasti kena, tidak ada yang bebas,” tambahnya.

Untuk mengatasinya, Handono rutin melakukan penyemprotan serta membungkus buah satu per satu agar terhindar dari lalat buah. Namun, metode ini membutuhkan biaya dan tenaga yang tidak sedikit.

“Harusnya dibungkus satu-satu, tapi tidak semua petani mampu,” katanya.

Ia menilai, penanganan hama seharusnya dilakukan secara serentak oleh seluruh petani. Namun, kondisi ekonomi sering menjadi kendala.

“Harusnya bersama-sama, tapi kadang terbentur biaya dan kemampuan masing-masing,” ujarnya.

Selain persoalan hama, keterbatasan lahan menjadi tantangan lain yang dihadapi petani jeruk pamelo. Handono menyebut, sebagian besar petani di desanya hanya memiliki lahan sempit sehingga sulit melakukan pengembangan. “Lahannya terbatas, tidak bisa nambah lagi,” katanya.

Meski begitu, jeruk pamelo tetap menjadi komoditas utama di Desa Tamanan. Bahkan, tanaman padi hampir tidak ditemukan di wilayah tersebut.

“Di sini tidak ada yang tanam padi, kebanyakan tebu sama jeruk, karena lahannya kurang air,” jelasnya.

Handono sendiri memiliki sekitar 100 pohon jeruk pamelo. Dari jumlah itu, ia mengakui seluruh pohonnya pernah terserang hama, meski dengan tingkat kerusakan yang berbeda-beda.

“Tidak ada yang bebas, semua kena, tinggal seberapa parahnya saja,” ujarnya.

Dari sisi ekonomi, harga jeruk pamelo cukup bervariasi tergantung ukuran dan kualitas. Untuk buah berukuran besar, harga bisa mencapai Rp20 ribu per buah. “Kalau yang besar bisa sampai Rp20 ribu,” katanya. Namun, jika dijual ke tengkulak, harga jauh lebih rendah. “Biasanya sekitar Rp7 ribu. Ya sudah untung kalau segitu,” imbuhnya.

Meski margin keuntungan tidak selalu besar, Handono tetap bertahan. Baginya, bertani jeruk bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi juga menjaga warisan keluarga yang telah digeluti selama puluhan tahun. Ia juga menyoroti pentingnya dukungan dari berbagai pihak, terutama dalam pengendalian hama. Menurutnya, program yang dilakukan secara parsial belum cukup efektif. “Harusnya ada gerakan bersama, biar hasilnya maksimal,” katanya.

Perjalanan panjang Handono selama 76 tahun menjadi bukti ketekunan seorang petani dalam menjaga komoditas lokal. Dari masa ketika distribusi masih terbatas hingga kini menjangkau pasar nasional, ia tetap setia merawat kebunnya. Di balik manis dan segarnya jeruk pamelo Magetan, tersimpan kisah perjuangan yang tak sederhana. Handono adalah salah satu penjaganya yang dengan sabar menanam, merawat, dan mempertahankan kualitas, demi memastikan warisan rasa itu tetap hidup dari generasi ke generasi.(Diskominfo / kontrib.skc / fa2 /

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *