Pagi baru saja menyingsing di Pasar Sayur Magetan. Lorong-lorong pasar mulai ramai oleh suara pedagang yang menawarkan dagangan, bunyi plastik kresek, serta aroma khas sayur mayur yang bercampur dengan wangi rempah segar.
Di salah satu sudut pasar, Bu Siti duduk di depan lapak kecilnya. Tangannya sibuk merapikan serai, daun salam, daun jeruk, kunyit, lengkuas, hingga berbagai empon-empon yang tersusun dalam keranjang plastik dan tampah kecil. Dari lapaknya, aroma rempah menyeruak kuat, aroma yang mengingatkan pada dapur rumah, masakan hajatan, dan racikan jamu tradisional.
Namun pagi itu, tak banyak pembeli yang mampir. “Sekarang sepi sekali,” katanya lirih sambil membenarkan susunan bumbu racikan opor dan gulai yang tergantung di sisi lapaknya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan cerita panjang tentang perubahan zaman yang perlahan menggeser pedagang rempah tradisional seperti dirinya.
Sudah bertahun-tahun Bu Siti berjualan empon-empon di Pasar Sayur Magetan. Dulu, terutama saat musim hajatan, lapaknya nyaris tak pernah lengang. Warga berdatangan membeli kunyit, jahe, kencur, serai, hingga aneka bumbu dapur untuk memasak dalam jumlah besar. Suasana pasar terasa hidup sejak pagi buta. “Kalau dulu orang hajatan masak sendiri, ramai. Pakai bumbu seperti ini,” ucapnya sambil menunjuk deretan rempah di depannya.
Kini semuanya perlahan berubah. Banyak hajatan digelar lebih sederhana. Tak sedikit warga memilih makanan praktis atau bingkisan berisi mie instan dan beras dibanding memasak besar-besaran. “Kalau sekarang banyak yang sederhana. Dikasih kering,” katanya.
Belum lagi hadirnya bumbu instan yang makin mudah ditemukan di toko modern dan minimarket. Tinggal sobek kemasan, masakan pun jadi. “Sekarang banyak yang beralih ke bumbu instan. Kan simpel,” ujar Bu Siti.
Perubahan kebiasaan itu sangat terasa bagi pedagang kecil seperti dirinya. Pembeli kini jarang mencari rempah lengkap satu per satu. “Paling cuma serai, salam, daun jeruk,” katanya.
Sementara bumbu lainnya sudah tersedia dalam kemasan racikan siap pakai. Meski begitu, Bu Siti tetap bertahan. Setiap pagi ia masih datang membawa empon-empon segar dari pemasok. Ia tetap menata dagangannya rapi, berharap pelanggan lama datang membeli seperti dulu.
Di sela obrolan, Bu Siti mengambil satu rimpang kecil berwarna pucat. “Kalau dokter namanya kunir putih. Kalau orang Jawa bilang kunci pepet,” katanya sambil tersenyum kecil.
Rempah itu biasa dipakai untuk ramuan herbal dan jamu tradisional. Pengetahuan sederhana yang ia hafal di luar kepala setelah puluhan tahun hidup bersama aroma rempah.
Dari bertahan berjualan rempah rempah bumbu dapur, keuntungan yang didapat menurut bu Siti sebenarnya tak seberapa. Satu renteng bumbu racikan isi sepuluh bungkus ia beli Rp15 ribu, lalu dijual kembali Rp2 ribu per bungkus. Untungnya tipis. Tetapi bagi Bu Siti, bertahan bukan lagi semata soal keuntungan. “Yang penting masih ada langganan,” ucapnya pelan.
Di tengah perubahan gaya hidup masyarakat, lapak kecil Bu Siti di Pasar Sayur Magetan seolah menjadi pengingat bahwa ada tradisi yang perlahan mulai ditinggalkan. Tentang dapur yang dulu dipenuhi roma rempah segar. Tentang masakan yang diracik sendiri dari kunyit, serai, dan lengkuas yang ditumbuk perlahan.
Dan tentang pedagang-pedagang kecil yang tetap bertahan menjaga aroma masa lalu, meski zaman terus bergerak maju.(Diskominfo / kontrib.skc / fa2 /


