Gemerlap kreativitas pelajar warnai ajang Fashion Show Batik Bambu Magetan yang digelar di GOR Ki Mageti, Rabu (17/6/26) sore hingga malam.
Peserta mulai dari tingkat PAUD/TK, SD, SMP, hingga SMA tampil percaya diri memamerkan beragam busana berbahan dan bermotif bambu di hadapan dewan juri dan ratusan penonton.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu rangkaian Festival Bambu Magetan yang berlangsung sejak 12 hingga 21 Juni 2026.
Selain menjadi ajang unjuk bakat, perlombaan ini juga dimaksudkan untuk mengangkat potensi batik bambu sebagai salah satu identitas daerah.
Panitia penyelenggara, Wowok, menjelaskan bahwa peserta dibagi ke dalam empat kategori, yakni PAUD/TK, SD, SMP, dan SMA. Pembagian tersebut dilakukan agar penilaian lebih proporsional sesuai usia peserta.
“Kategori memang dipisah berdasarkan jenjang pendidikan. Jadi peserta TK tidak dicampur dengan SD maupun jenjang lainnya agar kompetisi berjalan lebih adil,” ujarnya.
Meski awalnya diperuntukkan bagi perwakilan sekolah, panitia juga membuka kesempatan bagi peserta umum yang ingin mengikuti perlombaan. Pada masing-masing kategori, panitia menetapkan juara I, II, dan III; juara harapan I, II, dan III; serta penghargaan khusus The Best Costume.
Persaingan antarpeserta berlangsung cukup ketat. Meski mayoritas masih berusia anak-anak, penampilan yang ditunjukkan dinilai sangat memukau. Berbagai konsep busana ditampilkan dengan percaya diri di atas catwalk.
Dukungan orang tua maupun pendamping yang membantu mempersiapkan kostum dan penampilan peserta turut menjadi faktor yang membuat kompetisi ini semakin menarik.
Lebih lanjut Wowok menjelaskan penilaian tidak hanya berfokus pada kemampuan peserta saat berjalan di atas panggung, tetapi juga pada kesesuaian kostum dengan tema Festival Bambu yang diusung tahun ini.
“Karena ini Festival Bambu, maka yang kami angkat khusus batik bambu. Magetan sebenarnya memiliki banyak jenis batik, tetapi kali ini fokusnya memang pada bambu,” jelasnya.
Penghargaan The Best Costume menjadi salah satu kategori yang paling menyita perhatian. Kostum-kostum terbaik dipilih berdasarkan tingkat kreativitas dan konsistensi penggunaan unsur bambu dalam keseluruhan desain.
“Untuk The Best Costume, yang dinilai adalah keseluruhan busananya benar-benar menggambarkan bambu. Tidak hanya sebagian atau persentase tertentu, tetapi konsepnya utuh dan dominan bambu dari atas sampai bawah,” tambahnya.
Panitia berharap kegiatan serupa dapat terus berkembang pada tahun-tahun mendatang. Selain menjaring talenta-talenta baru dari sekolah-sekolah di Magetan, ajang ini diharapkan mampu menarik peserta dari luar daerah sehingga dunia modeling dan industri kreatif berbasis budaya lokal semakin berkembang.
“Ke depan kami ingin lebih ditingkatkan lagi. Tidak hanya dari sekolah-sekolah di Magetan, tetapi juga mengundang talenta dari daerah lain agar hobi dan dunia modeling bisa semakin maju di Magetan,” pungkas.(Diskominfo / kontrib. G.lih / fa2 /



