Suasana malam di Desa Purwodadi, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan, mendadak hening dan sarat akan nuansa magis. Seluruh warga desa, dipimpin langsung oleh Kepala Desa Suci Minarni dan para sesepuh setempat, turun ke jalan mengenakan pakaian adat Jawa lengkap. Bukan untuk berpawai ria, mereka berkumpul untuk menggelar tradisi kuno laku bisu, berjalan membisu mengelilingi benteng bersejarah Kadipaten Purwodadi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Bagi masyarakat Purwodadi, tradisi yang digelar berbarengan dengan momentum Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi Desa Purwodadi ini bukan sekadar ritual masa lalu yang kaku. Laku bisu adalah bentuk “rem” kehidupan: sebuah jeda untuk menundukkan kepala, introspeksi diri, sekaligus menghormati jejak sejarah benteng dan para leluhur yang pernah membentengi tanah kelahiran mereka.
Ketika malam kian larut, seluruh penerangan di sekitar benteng dipadamkan. Suasana mendadak hening total. Dalam tradisi yang dinamakan Kirab Lelono Tanwicara ini, seluruh warga melangkah dalam kegelapan tanpa sepatah kata pun.
Kepala Desa Purwodadi, Suci Minarni, menjelaskan bahwa ritual laku bisu ini mengelilingi tembok benteng Kadipaten Purwodadi sebanyak satu kali putaran dengan rute sekitar 3 kilometer, yang ditempuh selama kurang lebih setengah jam menggunakan pakaian kebesaran adat Kejawen.
”Kirab laku bisu ini kita lakukan mengelilingi benteng Kadipaten Purwodadi satu kali putaran, sekitar 3 kilometer. Di situ sebagai simbolis untuk introspeksi diri, kita fokus berdoa dan berzikir kepada Gusti Allah, memohon ampun atas dosa-dosa atau kesalahan yang sudah kita lakukan. Semua keadaan sekitar harus hening, lampu harus mati, dan tidak diperkenankan untuk berbicara,” terang Suci.
Di tengah barisan kirab yang sunyi, terdengar dentangan berkala yang menggema memecah malam. Dentangan itu berasal dari penabuhan pusaka peninggalan leluhur yang terus dikirabkan sepanjang perjalanan.
”Di dalam kirab laku bisu itu ada suatu pusaka peninggalan dari eyang yang dikirab, namanya Gong Kanjeng Kyai Mbelem. Pusaka peninggalan Kadipaten ini disimpan turun-temurun oleh keluarga trah. Pusaka ini wajib ada, dan setiap beberapa langkah berjalan langsung ditabuh,” tambah Suci.
Keberadaan benteng, tradisi laku bisu, hingga pusaka Gong Kanjeng Kyai Mbelem menyimpan riwayat sejarah diplomasi serta perlawanan yang panjang. Purwodadi pada masa lampau merupakan pusat pemerintahan mandiri berbentuk Kadipaten Purwodadi sebelum akhirnya bergabung menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Magetan.
Septian Bagus Winata, salah satu keturunan ke-7 dari Sri Sultan Hamengkubuwono III, mengungkapkan bahwa kawasan ini memiliki peran strategis dalam peta Perang Jawa (De Java Oorlog).
”Purwodadi itu dulu aslinya sebuah pusat pemerintahan, berdiri keraton atau Kadipaten Purwodadi dengan sistem pemerintahan yang tertata saat itu. Ketika era Perang Jawa, tempat ini digunakan untuk mempersiapkan laskar-laskar Diponegoro melawan penjajah Belanda,” terang Septian.
Sejarah mencatat kepemimpinan Kadipaten Purwodadi bergulir di tengah kecamuk perang.
Rangkaian acara tahunan bertajuk Bumelaring Kadipaten Purwodadi ini dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut, mulai dari tanggal 29 hingga 31 Agustus. Tanggal 31 Agustus ditetapkan sebagai puncak acara sekaligus ketetapan Hari Jadi Desa Purwodadi, merujuk pada momen historis pengesahan Perjanjian Sepreh pada 31 Agustus 1830.
Kepala Desa Suci Minarni mengungkapkan bahwa durasi pelaksanaan acara ini telah mengalami penyesuaian dari tahun-tahun sebelumnya.
”Dulu festival dan rangkaian acara ini sempat diadakan selama tujuh hari berturut-turut. Namun, melihat kondisi panitia dan warga yang kelelahan jika dipadatkan seminggu penuh, akhirnya kesininya diringkas dan dibuat menjadi tiga hari saja. Yang terpenting puncaknya tetap pada tanggal 31 Agustus sebagai Hari Jadi Desa Purwodadi,” urai Suci.
Rangkaian tiga hari tersebut diawali dengan ritual kebersamaan Luhur Sewu Tumpeng dan Reh Rahayu.
”Tumpeng-tumpeng itu datang dari RT-RT, warga masyarakat, hingga keluarga trah Pangeran Diponegoro. Kita berkumpul dan berdoa bersama mendoakan para luhur demi keselamatan dan ketenteraman bersama (Reh Rahayu),” jelasnya lagi.
Di balik jalannya tradisi sakral ini, Kepala Desa Suci Minarni menaruh harapan besar agar warisan leluhur ini tak padam digerus zaman. Ia juga menyampaikan keprihatinan sekaligus imbauan penting terkait kondisi fisik benteng Kadipaten Purwodadi yang mulai terancam waktu.
”Harapan saya tradisi laku bisu ini bisa terus dilaksanakan oleh generasi penerus dan tidak boleh terputus. Selain itu, bangunan benteng ini adalah peninggalan sejarah yang sangat berharga. Karena kondisinya yang sudah rentan dimakan usia, kami sangat berharap benteng ini selalu dijaga, dirawat, dan mendapat perhatian bersama agar tetap berdiri kokoh menjaga sejarah kita,” pungkas Suci.(Diskominfo / kontrib.tik / fa2 /
