Mandiri Lewat Inovasi, Melon Hasil Greenhouse BUMDes Klagen Bersatu Laris Manis Diburu Pasar

‎Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Klagen Bersatu, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan membuktikan bahwa inovasi dan kemandirian adalah kunci utama dalam menggerakkan roda perekonomian lokal. Melalui pengelolaan pertanian modern di dalam greenhouse, BUMDes Klagen Bersatu sukses menggelar panen raya melon premium yang langsung laris manis diburu para pembeli.

‎Langkah berani ini diambil Pemerintah Desa Klagen sebagai strategi cerdas untuk tetap mandiri dan berdaya di tengah kebijakan pemotongan anggaran transfer dari pusat. Lewat keberhasilan tata kelola agribisnis ini, desa optimistis mampu mendongkrak pendapatan desa secara mandiri.

‎Pada panen raya siklus kedua ini, Kepala Desa Klagen, Suci Yuliana, menjelaskan bahwa kunci utama yang membuat produk mereka begitu diburu pasar adalah keberanian untuk memanjakan kualitas melalui keragaman varietas premium. Di dalam fasilitas greenhouse tersebut, terdapat sekitar 800 pohon melon yang dirawat secara intensif dan menghasilkan buah berkualitas tinggi.

‎”Jadi untuk panen raya kali ini ada beberapa varietas yang kita tanam, totalnya ada empat jenis. Yang pertama Sweet Lavender, yang kedua Intanon, yang ketiga Petra Fanny, dan yang keempat Sweet Honey,” kata Suci.

‎Banyaknya varietas unggulan di antara ratusan pohon melon ini memberikan daya tarik yang luar biasa. Meski dipatok dengan harga di atas rata-rata pasar konvensional karena mutunya yang unggul, konsumen justru berebut untuk mendapatkan buah segar ini langsung dari pohonnya.

‎”Yang menjadi gong-nya sih memang varietas Intanon, harganya Rp35.000 per kilo. Harganya memang di atas pasar, tapi kita memang menonjolkan kualitas,” tambahnya.

‎Antusiasme pasar yang luar biasa ini dibuktikan dengan kecepatan penjualan. Pada panen perdana sebelumnya, seluruh hasil melon ludes terjual hanya dalam waktu satu hari. Belajar dari pengalaman tersebut, pada panen kedua ini persiapan dilakukan lebih matang. Suci  memastikan bahwa hasil panen dari sekitar 800 pohon melon ini dipastikan habis dalam waktu singkat.

‎”Pasti habis. Dari semua target kita ini, nanti 3 hari sudah habis.” ungkap Suci Yuliana dengan nada optimis.

‎Saat memaparkan alasan di balik pemilihan budi daya melon premium di dalam greenhouse, Suci  menekankan pentingnya sebuah desa melahirkan pembeda atau inovasi yang menonjol agar mampu bersaing secara ekonomi. Budi daya ini menjadi langkah baru bagi kelembagaan desa untuk memperkuat ketahanan pangan lokal.

‎”Untuk mendukung ketahanan pangan, kita buat greenhouse biar inovasinya beda dengan desa lain. Karena setiap desa punya inovasi masing-masing, kita ingin menonjolkan inovasi khususnya di Desa Klagen agar ada hal yang berbeda,” jelasnya.

‎Di balik tingginya minat pasar, mengelola pertanian modern dengan ekosistem terkontrol tentu memiliki tantangan tersendiri. Direktur BUMDes Klagen Bersatu mengungkapkan bahwa tantangan merawat sekitar 800 pohon melon di dalam greenhouse jauh lebih spesifik dan membutuhkan perlakuan ekstra dibanding pertanian konvensional terbuka. Salah satu kendala yang sempat dihadapi adalah adanya buah melon yang pecah akibat faktor nutrisi.

‎Meskipun pada fase awal dan panen kedua ini seluruh keuntungan belum bisa dialokasikan langsung menjadi Pendapatan Asli Desa (PAD) karena masih digunakan untuk penguatan kapasitas dan modal operasional, Suci Yuliana optimistis bahwa inovasi ini akan segera memberikan sumbangsih finansial yang besar bagi desa pada musim-musim tanam berikutnya.

‎”Kalau untuk saat ini, untuk yang kedua kali ini memang belum bisa memberikan PAD. Tapi harapan kita ke depan, pada pengelolaan berikutnya, kita yakin akan memberikan PAD minimal 20 persen. Kita yakin bisa membantu PAD, karena untuk saat ini anggaran yang kita dapatkan memang ada pemotongan,” urai Suci mengenai peta jalan kemandirian fiskal desanya.

‎”Kendalanya (kulit buah) bisa pecah-pecah. Menanam melon di greenhouse ini memang tantangannya lebih berat. Walaupun hama jarang masuk, tapi perlakuannya harus spesial dan beda dengan konvensional. Kemarin itu sempat ada keterlambatan nutrisi yang masuk, jadi melon yang seharusnya kencang dan keras menjadi pecah. Itu yang akan jadi bahan evaluasi kita,” papar Direktur BUMDes Klagen Bersatu.

‎Hebatnya, seluruh pencapaian dan proses belajar ini dilakukan secara mandiri oleh pihak desa dan pengurus BUMDes. Pengelolaannya murni berjalan dari hasil studi tiru yang dilakukan secara mandiri ke BUMDes Njambangan serta kerja keras internal desa.

‎Ke depan, Pemerintah Desa Klagen bersama BUMDes Klagen Bersatu berkomitmen penuh untuk melakukan persiapan yang jauh lebih matang menghadapi musim tanam ketiga. Langkah ini mencakup rencana mengeksplorasi varietas baru agar melon premium yang dihasilkan semakin sempurna, tetap diburu pasar, dan konsisten membawa Desa Klagen menuju desa yang mandiri secara ekonomi.(Diskominfo / kontrib.tik / fa2 /

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *