Dalam upaya mendongkrak kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan fasilitas pustaka, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Arpus) Kabupaten Magetan menggelar kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengembangan Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS). Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari, mulai tanggal 29 Juni sampai dengan 1 Juli 2026, bertempat di Ruang Rapat Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Magetan.
Program ini menegaskan peralihan fungsi perpustakaan modern. Perpustakaan tidak lagi sekadar menjadi tempat meminjam dan membaca buku, melainkan menjelma menjadi pusat pembelajaran dan pemberdayaan kreativitas anak.
Selain itu, Dinas Arpus Magetan juga memberikan pelatihan bagaimana sistem pengelolaan perpustakaan, mulai dari inventarisasi buku dan pengelolaan layanan.
Pada kesempatan kali ini, kegiatan Bimtek diikuti oleh tiga orang perwakilan pengelola perpustakaan dari 10 desa yang tersebar di 10 kecamatan di Kabupaten Magetan. Sepuluh desa rintisan tersebut di antaranya adalah:
* Desa Nguri (Kecamatan Lembeyan)
* Desa Sidowayah (Kecamatan Panekan)
* Desa Tanjung (Kecamatan Bendo)
* Desa Tebon (Kecamatan Barat)
* Desa Nitikan (Kecamatan Plaosan)
* Desa Sampung (Kecamatan Kawedanan)
* Desa Gulun (Kecamatan Maospati)
* Desa Kenongomulyo (Kecamatan Nguntoronadi)
* Desa Durenan (Kecamatan Sidorejo)
* Desa Karas (Kecamatan Karas)
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Magetan, Endang Ambarwati, menyampaikan bahwa penguatan literasi di sepuluh desa ini bukan lagi soal bebas buta aksara, melainkan bagaimana literasi tersebut dapat diimplementasikan secara langsung kepada anak-anak.
”Melalui program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), kita dituntut untuk menjadikan perpustakaan sebagai wadah inklusif di mana masyarakat dapat mengakses informasi, mengembangkan keterampilan, dan meningkatkan kesejahteraan sosial-ekonomi mereka,” ungkap Endang Ambarwati dalam sambutannya.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa bimbingan teknis yang diselenggarakan ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat pemahaman dan kapasitas para pengelola perpustakaan. Transformasi layanan berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dinilai menjadi kunci utama untuk mempersempit kesenjangan informasi sekaligus menjangkau masyarakat yang lebih luas di era digital.
Melalui kegiatan ini, Kepala Dinas Arpus Magetan menekankan tiga poin besar yang diharapkan dapat terwujud:
1. Peningkatan Kapasitas: Pengelola perpustakaan harus mampu mengoptimalkan fasilitas TIK dan menyusun strategi layanan yang tepat guna bagi masyarakat.
2. Kolaborasi Lintas Sektor: Perpustakaan diharapkan dapat menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari pegiat literasi, pelaku UMKM, hingga lembaga pendidikan setempat.
3. Replikasi Nyata: Program ini tidak boleh hanya sekadar formalitas, melainkan benar-benar direplikasi untuk menciptakan program-program kreatif yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.
”Harapan saya kepada seluruh peserta, manfaatkanlah momen bimbingan teknis ini sebaik-baiknya. Serap ilmu yang diberikan oleh para narasumber, diskusikan tantangan yang ada, dan terapkan inovasi tersebut di perpustakaan Bapak/Ibu sekalian,” tegasnya.
Kehadiran program TPBIS ini disambut baik oleh para pengelola di tingkat akar rumput. Salah satunya adalah Sulastri, peserta perwakilan dari Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sumber Ilmu, Desa Nguri, Kecamatan Lembeyan.
Baginya, materi bimtek ini menjadi angin segar sekaligus bekal berharga untuk merevitalisasi tempat rintisannya yang kini tengah bersiap bertransformasi menjadi perpustakaan desa yang lebih terstruktur. Selama ini, TBM Sumber Ilmu mengandalkan koleksi buku swadaya dari masyarakat serta stimulan bantuan dari Dinas Arpus Magetan.
”Lewat bimtek ini, kami ingin TBM di desa kami bisa lebih aktif lagi. Saat ini kan statusnya masih TBM mandiri dan mau proses perubahan menuju perpustakaan desa yang baru,” kata Sulastri di sela-sela kegiatan.
Sulastri menceritakan, tantangan terbesar di desanya adalah menghadapi fluktuasi minat baca dan kunjungan pemustaka yang mayoritas masih didominasi oleh anak-anak usia sekolah pada waktu-waktu terbatas.
Untuk menyiasatinya, TBM Sumber Ilmu sempat menjalin kerja sama dengan layanan Perpustakaan Keliling (Perpusling) dari Dinas Arpus Magetan yang dijadwalkan hadir secara berkala setiap hari Sabtu guna menarik perhatian anak-anak. Selain itu, pada hari biasa, Sulastri kerap “menjemput bola” dengan membuka layanan bacaan berbarengan dengan agenda rutin kader PKK desa.
Meski demikian, ia mengakui bahwa menumbuhkan minat baca anak di era digital saat ini membutuhkan perjuangan yang luar biasa dan trik yang matang, salah satunya dengan menyelipkan daya tarik permainan edukatif agar anak-anak tidak bosan.
Melalui Bimtek TPBIS ini, Sulastri berharap bisa menemukan formula dan strategi yang tepat untuk diterapkan di desanya, terutama dalam hal pelibatan masyarakat luas.
”Menarik minat masyarakat dan anak-anak untuk mau datang dan membaca itu perjuangannya bener-bener ya, harus melakukan perjuangan yang mungkin belum pernah dilakukan sebelumnya. Susah-susah gampang. Kalau dijadwalkan dari sekolah atau digerakkan oleh guru dan dinas, anak-anak pasti mau datang. Melalui materi bimtek ini, kami masih terus mencari dan merumuskan cara terbaik yang paling cocok untuk diterapkan pada anak-anak dan masyarakat di desa kami nanti,” pungkasnya.
Melalui sinergi yang matang dalam Bimtek ini, Pemerintah Kabupaten Magetan berharap 10 desa rintisan ini mampu menjadi motor penggerak literasi yang inklusif, di mana setiap lapisan masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkarya, dan mandiri secara ekonomi.(Diskominfo / kontrib.tik / fa2 /





