Kabar menggembirakan datang dari sektor pertanian Kabupaten Magetan. Memasuki masa panen musim tanam kedua tahun 2026, para petani menikmati lonjakan harga gabah yang nyaris menyentuh angka Rp9.000 per kilogram. Kondisi ini membuat petani kembali bergairah menanam padi setelah beberapa musim dihadapkan pada tingginya biaya produksi.
Di sejumlah wilayah sentra pertanian, harga gabah basah saat ini dibeli tengkulak di kisaran Rp7.200 hingga Rp7.500 per kilogram. Sementara itu, harga gabah kering giling (GKG) telah mencapai Rp8.600 hingga mendekati Rp9.000 per kilogram.
Tingginya harga gabah menjadi angin segar bagi petani karena mampu menutupi biaya pengolahan lahan, pembelian pupuk, pestisida, hingga ongkos tenaga kerja yang terus meningkat.
“Alhamdulillah, musim ini harga gabah cukup tinggi. Kami para petani jadi semangat bertanam padi tahun ini. Jadi bisa sedikit menabung untuk biaya anak masuk sekolah juga,” ujar Sularso, petani asal Desa Pragak, Kamis (18/6/26).
Menurutnya, selain harga yang menguntungkan, hasil panen musim tanam kedua ini juga tergolong baik. Serangan hama relatif rendah dibandingkan saat musim penghujan sehingga produktivitas padi meningkat.
“Hasil panennya bagus. Hama juga tidak banyak seperti saat musim hujan. Memang ada tambahan biaya untuk beli air, tapi masih tertutupi karena harga gabah sedang tinggi,” katanya.
Sularso berharap tren kenaikan harga gabah masih berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.
“Kalau bisa benar-benar tembus Rp9.000 per kilogram, tentu petani semakin untung,” imbuhnya.
Hal senada diungkapkan Sunarto (53), petani asal Desa Tapen, Kecamatan Lembeyan. Ia mengaku bersyukur karena musim panen kali ini memberikan hasil yang sesuai dengan jerih payah petani selama masa tanam.
“Alhamdulillah hasil panen bagus, harga juga bagus. Meski belum sampai Rp9.000, petani sudah merasa untung. Mudah-mudahan bisa naik lagi,” ujarnya.
Menurut Sunarto, tingginya harga gabah saat ini menjadi salah satu yang terbaik dalam beberapa musim terakhir. Kondisi tersebut membuat petani kembali optimistis terhadap usaha tani padi.
Tingginya harga gabah ternyata mulai memengaruhi keputusan petani dalam menentukan pola tanam berikutnya. Jika sebelumnya banyak petani berencana menanam jagung atau palawija pada musim tanam ketiga, kini sebagian besar justru memilih untuk kembali menanam padi.
Pantauan di sejumlah lahan pertanian menunjukkan sekitar 30 persen petani yang semula berencana beralih ke palawija, kini kembali mempersiapkan sawah untuk ditanami padi.
Meski biaya pengairan saat musim kemarau lebih tinggi, mereka menilai keuntungan yang diperoleh dari komoditas padi masih jauh lebih menjanjikan dibandingkan tanaman lain.
“Kami pilih tanam padi lagi meski harus keluar biaya lebih untuk beli air. Apalagi yang punya sumur pompa, hampir pasti kembali tanam padi,” ungkap salah satu petani.
Dengan harga gabah yang terus menguat dan hasil panen yang memuaskan, petani Magetan berharap momentum positif ini dapat bertahan hingga musim tanam berikutnya. Mereka juga optimistis sektor pertanian padi kembali menjadi tumpuan ekonomi keluarga sekaligus menjaga produktivitas pangan di Kabupaten Magetan.(Diskominfo / kontrib.yan / fa2 /




