Pasangan Milenial Di Magetan Sukses Bisnis Kulit Kebab, Omzet Ratusan Juta dan Berdayakan Warga Desa

Inspirasi bisnis bisa datang dari mana saja, termasuk dari wilayah pelosok yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Di Dusun Tangkil, Desa Poncol, Kabupaten Magetan, pasangan suami istri muda membuktikan bahwa domisili bukan penghalang untuk meraih sukses besar sekaligus membangun ekonomi desa.

Zulfikal Farrok (29) dan istrinya, Eka Puryanti (27), kini menjadi motor penggerak ekonomi di lingkungannya melalui brand kulit kebab yang mereka rintis sejak tahun 2021 lalu. Di usia yang masih sangat produktif, keduanya berhasil membangun industri rumahan yang mampu menembus pasar luas dengan omzet mencapai ratusan juta rupiah setiap bulannya.

Keberhasilan  Zulfikal dalam mengelola usahanya ternyata tidak datang begitu saja. Keahlian dan keberaniannya membuka usaha ini berakar dari pengalamannya di masa lalu. Sebelum memutuskan pulang kampung ke Magetan, Zulfikal pernah merantau ke Sidoarjo dan bekerja di sebuah perusahaan yang juga memproduksi kulit kebab.

Selama bekerja di Sidoarjo, ia menimba ilmu tentang proses produksi, standar kualitas, hingga manajemen operasional industri tortilla. Berbekal pengalaman berharga itulah, Zulfikal kemudian memantapkan diri untuk berwirausaha secara mandiri di tanah kelahirannya, dengan mengajak sang istri untuk berkolaborasi membangun usaha sendiri.

Untuk memenuhi kebutuhan pasar yang beragam, mereka memproduksi kulit kebab atau tortilla dengan tiga pilihan ukuran diameter yang berbeda. Mulai dari ukuran kecil, sedang, hingga diameter terbesar, semuanya diproduksi dengan standar kualitas yang terjaga agar tetap lentur dan tidak mudah sobek.

“Kami menyediakan berbagai pilihan ukuran agar para mitra pedagang bisa menyesuaikan dengan porsi pesanan mereka, mulai dari yang ukuran mini hingga yang besar,” jelas Zulfikal.

Namun, Zulfikal tidak ingin berhenti di situ. “Ke depan, harapan kami tidak hanya fokus di kulit kebab saja, tapi juga ingin memproduksi kulit lumpia,” tambahnya optimis.

Meski berlokasi di daerah perbukitan yang cukup terpencil, jangkauan pasar produk ini telah melintasi samudera. Zulfikal mengungkapkan bahwa permintaan dari luar Pulau Jawa sangat tinggi dan terus meningkat secara signifikan.

“Permintaan dari luar Jawa sangat luar biasa. Contohnya untuk wilayah Lombok saja, kami harus memenuhi pengiriman sebanyak 2 ton setiap minggunya. Itu belum termasuk permintaan rutin ke kota-kota lain seperti Samarinda, serta distribusi besar di wilayah Jawa Tengah,” tambahnya.

Kini, ia mulai serius menggarap pasar Jawa Timur yang sedang tumbuh pesat. “Kami mencoba buka peluang di Jawa Timur karena sekarang di wilayah ini baru mulai banyak UKM kebab ,” jelasnya.

Saat ini Zulfikar telah berdayakan 44 Karyawan dengan yang seluruhnya merupakan warga lokal Desa Poncol. Komitmen pasangan ini terhadap kesejahteraan stafnya dibuktikan dengan pemberian upah sesuai standar UMR Magetan.

Namun, derasnya pesanan membuat kapasitas produksi saat ini masih dianggap belum mencukupi. Zulfikal menyebutkan bahwa meski sudah dibantu puluhan pekerja, ia masih membutuhkan lebih banyak tenaga kerja untuk menutup celah permintaan yang terus mengalir.

“Dengan 44 karyawan saja kami masih kewalahan. Permintaan pelanggan sangat besar, jadi sebenarnya kami masih butuh banyak tenaga tambahan lagi untuk memenuhi kuota produksi harian kami,” ujar Zulfikal.

Saat ditanya mengenai harapan terbesarnya, Zulfikal menjawab dengan tulus bahwa ia ingin usahanya terus berkembang agar bisa memberikan manfaat bagi lebih banyak orang.

“Harapan saya ke depan, usaha ini bisa menciptakan lapangan kerja yang lebih luas lagi dan bermanfaat bagi banyak orang,” pungkasnya.(Diskominfo / kontrib.tik / fa2 /

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *