Hadapi Mutasi Virus Pemerintah Siapkan Vaksin Booster

Mutasi virus yang sulit diprediksi tidak bisa membuat kita semua lengah, munculnya varian omicron contohnya, dimana dari laporan dari Institute Tropical Disease (ITD) Unair varian ini sudah mulai terseteksi masuk ke propinsi Jawa Timur.

 “Kita tidak boleh panik, tapi yang terpenting harus waspada dengan cara memperketat protokol kesehatan, memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, mengurangi mobilitas dan menjauhi kerumunan serta percepat vaksinasi,” kata Gubernur Jatim, Khofifah di sela-sela kunjungan kerjanya ke Kab. Pasuruan, Minggu (2/1).

“Sekarang yang harus kita lakukan adalah bersama-sama berupaya sekuat tenaga agar varian omicron tidak meluas di Jawa Timur, dan jangan sampai terjadi penularan lokal. Saya juga langsung kordinasi dengan Pangdam, Kapolda, Ka. BNPB serta Menkes, ” lanjut Khofifah.

Terkait hal tersebut keputusan cepat pun telah  dikeluarkan oleh Presiden RI, Joko Widodo. Dimana mulai 12 Januari mendatang, Indonesia akan melaksanakan vaksinasi booster.

Perlu sobatkom ketahui, Vaksin booster adalah dosis vaksin tambahan yang dapat memberikan perlindungan ekstra terhadap penyakit. Kenapa haru ditambah karena efek beberapa vaksin dapat hilang seiring berjalannya waktu. Selain itu vaksin booster memungkinkan sistem tubuh untuk mengenali dan merespons virus penyebab penyakit dengan lebih cepat.

Menteri Kesehatan Budi Sadikin Gunawan dalam konferensi pers melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (3/1/2022), menyatakan “Vaksin booster akan diberikan ke kelompok usia di atas 18 tahun sesuai rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO),” Adapun prasyarat lainnya,  vaksinasi booster akan diberikan kepada mereka yang telah mendapatkan vaksin dosis kedua dengan jangka waktu lebih dari enam bulan, ungkap Budi.

“Kita identifikasi ada sekitar 21 juta sasaran di bulan Januari yang sudah masuk ke kategori ini,” lanjut  Budi.

Jumlah itu tersebar di sejumlah wilayah. Vaksinasi booster hanya akan diberikan kepada kabupaten/kota yang capaian vaksinasinya telah memenuhi kriteria 70 persen dosis pertama dan 60 persen dosis kedua.

“Ada 244 kabupaten kota yang sudah memenuhi kriteria tersebut,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Budi mengaku, untuk kebutuhan vaksinasi booster, pemerintah telah mengamankan stok sekitar 113 juta dosis vaksin dari total kebutuhan 230 juta dosis.

Untuk jenis vaksin yang akan digunakan, pemerintah masih menunggu rekomendasi Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Sejauh ini Badan POM telah melakukan registrasi terhadap lima vaksin yang akan digunakan sebagai vaksin booster. Kelima merek vaksin tersebut adalah Pfizer, AstraZeneca, Coronavac/Vaksin PT Bio Farma, Zifivax, dan Sinopharm. Menurut Kepala Badan POM Penny K Lukito, sejumlah vaksin COVID-19 masih harus dilengkapi datanya dengan melakukan uji klinik. Uji klinik tersebut dilakukan untuk jenis vaksin berbeda yang digunakan dalam vaksin pertama dan kedua atau heterologus dan vaksin jenis yang sama atau homologus.

Menurut Food and Drug Administration (Badan Pengawas Makanan dan Obat, Amerika Serikat), efek samping yang mungkin  dialami, oleh individu setelah  mendapatkan vaksin booster adalah rasa sakit, kemerahan dan bengkak di tempat suntikan, kelelahan, sakit kepala, panas dingin, hingga nyeri otot atau sendi.

Jika dimasyarakat timbul pertanyaannya, mengapa vaksin booster diperlukan? Dua jawaban ini bisa menjawab hal tersebut. Pertama karena kekebalan tubuh akan berkurang seiring berjalannya waktu, dan kedua, karena adanya varian virus.

Beberapa varian virus COVID-19 telah berevolusi untuk menghindari beberapa bagian dari respons imun kita. Meski demikian, virus tidak dapat menghindari seluruh bagiannya.

Jenis vaksin yang saat ini diperboleh untuk dijadikan booster antara lain Sinovac, AstraZeneca, Pfizer dan Moderna. Vaksin Sinovac bisa diberikan setelah 6 bulan, Astrazeneca setelah 3 bulan, Pfizer setelah 8 bulan dan Moderna setelah 1 bulan.

WHO sendiri telah merekomendasikan agar orang dengan gangguan kekebalan tubuh dan para penerima vaksin dari virus COVID-19 yang dimatikan (inactivated vaccine) untuk segera mendapat booster. Dua contoh inactivated vaccine adalah vaksin Sinovac dan Sinopharm, yang telah digunakan secara luas di Indonesia.

Rekomendasi WHO yang muncul dari pertemuan Strategic Advisory Group of Experts (SAGE) baru-baru ini, diberikan seiring dengan meluasnya tingkat penyebaran varian Omicron di berbagai negara. ( diskominfo/sumber:infopublik.go.id-kominfojatimprov.go.id/pub.fa2/dok.antara)

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enter Captcha Here : *

Reload Image