Menjaga Rasa, Merawat Warisan: Andi Panen Pesanan Roti Bolu di Jelang Ramadhan

Aroma manis roti bolu yang baru keluar dari oven masih menjadi penanda waktu di sebuah rumah produksi sederhana di Desa Nitikan, Kabupaten Magetan . Dari tempatnya inilah, usaha roti bolu rumahan dengan merek Dinawa telah berdiri sejak tahun 1995 dan terus bertahan sepanjang zaman. Kini, tongkat estafet usaha keluarga itu berada di tangan generasi ketiga, Andi Putra, yang berupaya menjaga cita rasa warisan sekaligus menyesuaikan diri dengan perubahan pasar.

Andi menyebut dirinya sebagai penerus generasi ketiga dari usaha roti bolu yang telah dirintis sejak puluhan tahun lalu. Ia tumbuh bersama aroma adonan yang dipanggang setiap hari, menyaksikan bagaimana usaha rumahan itu perlahan menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat sekitar.

Memasuki bulan Ramadhan, permintaan roti bolu di tempat usahanya justru menunjukkan tren positif. Ia mengaku, pesanan menjelang Ramadhan masih stabil bahkan cenderung meningkat dibandingkan hari biasa. “Untuk permintaan menjelang Ramadhan ini alhamdulillah masih stabil dan cenderung meningkat. Kadang kita ada pesanan dari SPBG atau MBG juga, dan untuk acara hajatan atau undangan kita juga menerima banyak pesanan dari situ,” ungkapnya.

Ia mengaku peningkatan permintaan roti bolu menjelang Ramadhan mencapai sekitar 50 persen. Lonjakan tersebut tidak lepas dari pesanan dalam jumlah besar untuk berbagai kebutuhan acara maupun konsumsi massal. “Untuk saat ini peningkatannya sekitar 50 persen. Karena ada SPBG itu kadang satu kali pemesanan kemarin ada empat titik dan mencapai sekitar 8.000 bungkus,” jelas Andi.

Dalam kondisi normal, Andi menghabiskan sekitar dua hingga tiga kuintal tepung setiap hari untuk produksi. Namun saat permintaan meningkat hingga 50 persen, kebutuhan bahan baku melonjak hingga mencapai lima kuintal per hari.“Untuk patokan satu hari tepung itu sekitar dua sampai tiga kuintal. Kalau permintaan naik bisa sampai lima kuintal,” tambahnya.

Meski demikian, ia mengakui bahwa permintaan di awal Ramadhan biasanya cenderung menurun akibat menurunnya hajatan atau acara selamatan di masyarakat. Namun memasuki pertengahan hingga akhir Ramadhan, pesanan kembali meningkat seiring dengan tradisi mudik. “Biasanya nanti pertengahan sampai akhir itu pesanan baru meningkat lagi, apalagi kalau orang mudik dari luar kota banyak yang mampir ke sini,” ujarnya.

Di tengah meningkatnya permintaan, pelaku usaha seperti Andi juga harus menghadapi tantangan kenaikan harga bahan pokok. Ia mengaku, harga telur menjadi komponen paling signifikan mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. “Untuk kenaikan harga pokok sementara ini yang signifikan itu telur. Per kilonya bisa mencapai Rp 28.000, padahal normalnya di kisaran Rp 24.000 sampai Rp 25.000,” katanya.

Selain telur, harga gula juga ikut naik menjelang Lebaran karena meningkatnya kebutuhan masyarakat. Untuk menyiasati kenaikan harga bahan baku tanpa mengubah resep maupun cita rasa, Andi memilih untuk sedikit mengecilkan ukuran roti bolu yang diproduksi. Langkah tersebut diambil agar harga jual tetap terjangkau tanpa mengorbankan kualitas rasa. “Kalau untuk menyikapi kenaikan harga seperti itu, kita sedikit memperkecil ukurannya. Karena kita tidak mau mengambil risiko untuk resep atau cita rasa yang mempengaruhinya,” jelasnya.

Ia mengaku tidak berani menaikkan harga jual karena telah memiliki pelanggan setia dalam jangka waktu lama. “Kalau menaikkan harga itu susah, karena kita sudah punya pelanggan cukup lama. Takutnya nanti berpengaruh juga ke daya beli mereka,” imbuhnya.

Saat ini, roti bolu produksi Andi dijual dengan harga Rp 5.000 per bungkus. Meski demikian, saya tetap membuka layanan pesanan sesuai permintaan konsumen, termasuk jumlah isi dalam satu kemasan. Selain mengandalkan pemasaran secara langsung atau offline, Andi juga mulai merambah pemasaran melalui media sosial, salah satunya melalui platform TikTok. Ia mengaku baru memanfaatkan media sosial tersebut dalam waktu sekitar satu bulan terakhir.“Untuk TikTok kita baru belajar hampir satu bulan. Tapi responnya alhamdulillah lumayan baik,” katanya.

Hasilnya cukup menggembirakan. Dalam satu minggu percobaan siaran langsung melalui TikTok, penjualan roti bolu secara berani mampu menembus hampir 700 bungkus di luar penjualan offline. “Awal percobaan live TikTok selama satu minggu bisa menembus hampir 700 bungkus di luar penjualan offline,” ungkap Andi.

Meski mulai merambah dunia digital, Andi mengaku belum berencana melakukan inovasi rasa dalam waktu dekat. Ia memilih untuk tetap mempertahankan cita rasa tradisional yang telah menjadi identitas usaha keluarganya selama lebih dari tiga dekade. “Kita masih mempertahankan yang tradisional, karena cita rasa zaman dulu itu bisa mengingatkan masa kecil kita,” ujarnya.

Usaha roti bolu di Desa Nitikan ini juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Saat ini, Andi mempekerjakan sekitar 15 hingga 16 karyawan untuk membantu proses produksi hingga pengemasan.Pelanggan roti bolu tersebut tidak hanya berasal dari wilayah sekitar, tetapi juga dari berbagai daerah seperti Pacitan, Bojonegoro, hingga Rembang. Bahkan melalui pemasaran bold, produknya telah dikirim hingga ke Batam dan Bali.“Kesan dari pembeli di luar daerah bagus. Mereka bilang rasanya cocok dan sesuai dengan yang kami promosikan,” katanya.

Sebagai generasi ketiga, Andi kini fokus pada upaya memperluas jaringan pemasaran sekaligus memperkuat penjualan melalui platform digital.“Untuk rencana pengembangan sementara ini kami masih fokus pada penjualan dan memperluas jaringan, salah satunya melalui media sosial,” tutupnya.

Dengan tetap mempertahankan cita rasa tradisional dan mulai membuka diri terhadap pemasaran modern, Andi berupaya merawat warisan keluarga agar tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.(Diskominfo / kontrib.skc / fa2 / IKP1)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *