Malam Puncak Kreasi Seni SMPN 1 Maospati: Merajut Harmoni dalam Keberagaman

Ratusan siswa, guru, dan orang tua tumpah ruah lapangan yang berada di halaman SMP Negeri 1 Maospati, Magetan Jumat (29/8/2025). Malam itu, cahaya lampu panggung berpadu dengan tepuk tangan meriah, menandai puncak rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-68 SMPN 1 Maospati. Dengan tema “Kreasi Seni dan Harmoni dalam Keberagaman”, kegiatan ini bukan sekadar perayaan, tetapi menjadi ruang ekspresi sekaligus pembelajaran hidup bagi para siswa.

Pertama kali dengan konsep spektakuler
Kepala SMPN 1 Maospati, Seno, M.Pd., menyebut malam puncak ini sebagai kegiatan spektakuler pertama sepanjang sejarah sekolah berdiri. “Ini ide yang lahir bersamaan dengan peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia dan HUT ke-68 Snesti. Kami mengajak komite serta wali murid untuk berembuk, ternyata sambutannya luar biasa,” ungkap Seno.

Tak hanya melibatkan guru dan siswa, dalam kegiatan peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia dan HUT ke-68 Snesti terwujud berkat kolaborasi dengan komite sekolah, wali murid, serta dukungan sponsor. Selama hampir tiga minggu, SMPN 1 Maospati menggelar beragam kegiatan: lomba internal, jalan santai, partisipasi dalam karnaval kecamatan hingga pawai budaya di tingkat kabupaten. “Puncaknya malam ini. Kami ingin memfasilitasi siswa mengembangkan bakat dan talentanya. Termasuk kerawitan, ini hal baru. Tahun ini kami berhasil mewujudkan alat gamelan berkat sharing dengan wali murid. Anak-anak tampil luar biasa,” tambahnya.

Harmoni dalam Keberagaman Malam itu, aneka penampilan tersaji. Dari kerawitan, tari, fashion show, hingga kelas digital yang memadukan teknologi audio-visual. Bahkan kelas bilingual turut ambil bagian, memandu acara dengan bahasa Inggris yang fasih. Salah satu siswa kelas 7B, Natasha Bilyabiani, mengaku sempat deg-degan sebelum tampil menari. “Latihannya cuma seminggu. Rasanya deg-degan, tapi senang karena dapat pengalaman tampil di depan umum. Setelah tampil jadi lega,” ujarnya sambil tersenyum.

Pengalaman serupa dirasakan siswa kelas 9A yang malam itu untuk pertama kalinya tampil di panggung besar. “Awalnya kaget, tapi akhirnya senang punya pengalaman baru. Kalau tampil lagi mungkin sudah tidak terlalu deg-degan,” ungkapnya polos.

Apresiasi dari Dinas Pendidikan Kegiatan ini juga mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Magetan, Drs. Suwata, M.Si. Ia menyebut pentas seni sebagai implementasi pembelajaran yang menyeluruh.“Kreativitas anak-anak ini bagian dari pembelajaran pendalaman, yang meliputi empat unsur: olah pikir, olah rasa, olah hati, dan olah raga. Anak-anak tidak hanya berprestasi di akademik, tetapi juga non-akademik,” terang Suwata.
Ia menilai langkah SMPN 1 Maospati sudah tepat dalam membuka kelas bilingual, serta menjalin program pertukaran pelajar dengan SMPN 1 Pakem, Sleman. “Sekolah ini terus kami dorong agar unggul. Kegiatan seperti ini harus dilanjutkan, karena mendidik anak bukan hanya soal nilai, tetapi juga menggali potensi dan mengasah karakter,” tambahnya.

Dukungan Orang Tua, Kunci Keberhasilan
Hampir semua orang tua hadir malam itu, sebagian bahkan terlibat langsung menyiapkan kostum dan properti. Seno menyebut dukungan tersebut menjadi aset besar bagi sekolah. “Semua penampilan mandiri, termasuk fashion show dengan kostum hasil kreasi orang tua. Dukungan mereka luar biasa. Harapan kami, siapapun kepala sekolah ke depan, kegiatan seperti ini terus berlanjut,” tuturnya.

Bagi para siswa, malam puncak kreasi seni ini menjadi pengalaman berharga yang menumbuhkan rasa percaya diri. Bagi guru dan orang tua, kegiatan ini membuktikan bahwa sekolah bisa maju melalui sinergi dan kebersamaan. Dan bagi SMPN 1 Maospati, malam itu menjadi bukti nyata: pendidikan bukan sekadar mengajar di kelas, tetapi juga merajut harmoni dalam keberagaman melalui seni dan budaya.(Diskominfo / kontrib.skc / fa2 / IKP1)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *