Kabupaten Magetan sukses menjadi tuan rumah gelaran bergengsi Jambore Mountain Bike (MTB) Nasional ke-4 yang berlangsung meriah hari ini, Minggu (8/2/26). Lebih dari 2.000 rider dari berbagai penjuru tanah air, mulai dari Riau, Medan, Kalimantan, Sulawesi, hingga seluruh pelosok Pulau Jawa, tumpah ruah memadati rute menantang yang telah dipersiapkan oleh panitia, di sepanjang lereng Gunung Lawu.
Perwakilan Panitia Lokal, Kusrianto, menyatakan bahwa pemilihan Magetan sebagai tuan rumah tahun ini bukan tanpa alasan. Setelah sukses digelar di Bromo, Ijen, dan Batu, Magetan dipilih karena letak geografisnya yang strategis di tengah Pulau Jawa serta kekayaan wisata alamnya yang luar biasa.
”Alhamdulillah, peserta sangat antusias. Kami mencatat lebih dari 2.000 peserta hadir. Magetan ini posisinya di tengah, strategis, jadi dari arah Banyuwangi dekat, dari arah Bandung juga terjangkau. Fokus kami adalah mengeksplorasi wisata alam Magetan agar lebih dikenal secara nasional,” ujar Kusriantoro. Ia juga menambahkan bahwa dari Stage 1 hingga Stage 6, seluruh jalur berhasil dilalui peserta dengan lancar tanpa kendala berarti.
Event nasional ini tidak hanya menjadi ajang olah raga para riders, tetapi juga menjadi momen wisata keluarga. Salah satu peserta asal Pati, Jawa Tengah, Setyo, tampak antusias membawa serta istri dan anaknya yang baru berusia enam tahun.
”Ini pertama kalinya saya ikut event skala nasional. Rutenya mantap sekali, cukup menantang apalagi bawa anak kecil. Sempat deg-degan karena jalurnya licin dan banyak jurang, tapi panitia sepertinya sudah memilihkan jalur yang aman untuk kategori keluarga,” kata Setyo. Ia mengaku sengaja datang lebih awal untuk menginap di Telaga Sarangan sekaligus berwisata.
Setyo juga menepis anggapan bahwa MTB adalah olahraga mahal. “Yang utama itu fisik. Mau sepeda mahal kalau fisiknya tidak terlatih ya sama saja. Yang penting sepeda terawat dan fungsi pengereman (brake set) dipastikan fit sebelum turun ke jalur seperti ini,” tambahnya.
Kesan mendalam juga disampaikan oleh Yaya Kusdiantoro, peserta asal Tulungagung yang datang bersama rombongan berjumlah sepuluh orang. Rider senior yang sudah aktif bersepeda sejak muda ini mengaku terpesona dengan rute “Cemorosewu” (C-Seribu).
”Asyik, rutenya jos! Pemandangannya di ‘C-Seribu’ itu “uapik pokoke” keren banget, apalagi jalur single track-nya banyak, riding jadi tidak berdesakan,asyik banget track-tracknya,untuk parkirnya juga luas. Tadi sempat berhenti untuk selfie karena view-nya bagus sekali. Meskipun tadi banyak track yang berlumut dan membuat jalurnya jadi licin, tapi justru itu tantangannya,” ungkap Yaya dengan wajah sumringah. Goweser yang akhir-akhir ini sering gowes dengan komunitasnya dihutan-hutan di wilayah Pacitan, Kelud dan Wilis kemudian menambahkan, “Jambore ini mempersatukan goweser se-Indonesia. yang jarang ketemu untuk bisa berkumpul disini. “
Dampak Ekonomi bagi Masyarakat Lokal
Selain sebagai ajang silaturahmi para pecinta sepeda gunung, Jambore MTB Nasional ini diharapkan mampu mendongkrak ekonomi kerakyatan di Magetan. Okupansi penginapan di area Sarangan dan sekitarnya meningkat, serta sektor UMKM turut merasakan dampak positif dari kehadiran ribuan peserta.
Panitia berharap, kesuksesan event ke-4 di Magetan ini dapat menambah spirit dan semangat bagi penyelenggaraan jambore berikutnya di kota-kota lain, untuk bersama-sama mengembangkan MTB agar bisa berkembang pesat , sembari terus memasyarakatkan olahraga bersepeda dan mempromosikan destinasi wisata lokal Indonesia.( Diskominfo/fa2.




