“Jika Aku Jadi Orang Desa “, Kampung Susu Magetan. Wisatawan Rela Ber- Kotor kotor Ria demi Sebuah Kenangan dan Pengalaman

Pernahkah Anda membayangkan bagaimana rasanya menanggalkan hiruk-pikuk kota demi menjadi peternak sapi dalam sehari?

Di Kabupaten Magetan, fantasi tersebut kini menjadi tren wisata baru yang paling diburu melalui program edukasi yang diinisiasi oleh Kampung Susu Lawu (KSL) di Singolangu yang kini tengah naik daun dan menjadi primadona bagi wisatawan yang merindukan autentisitas di tengah kepungan dunia digital.

Program wisata bertajuk “Jika Aku Jadi Orang Desa” ini dimulai sekitar dua tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2023. Pengelola melihat potensi besar pada kondisi alam yang dingin serta dukungan sarana pertanian dan peternakan yang mumpuni untuk dikembangkan lebih jauh.

Berbeda dengan destinasi wisata pada umumnya, program ini mengajak wisatawan benar-benar menjalani rutinitas warga lokal. Peserta diajak melakukan pemerahan susu tradisional hingga memberikan pakan rumput segar.

“Waktu itu saya berpikir dengan kondisi alam yang dingin dan didukung sarana pertanian dan peternakan, ada harapan agar Kampung Susu bisa dinikmati masyarakat luas” ujar  Sri Wahyuni, inisiator Program ini.

Bukan sekadar swafoto di depan pemandangan hijau, namun sebuah pengalaman hidup yang mengajak kaum urban untuk benar-benar “pulang ke desa”.

Keunikan program ini juga terletak pada keterlibatan langsung masyarakat Singolangu. Inisiator program mengungkapkan bahwa kesuksesan wisata edukasi ini tidak lepas dari peran aktif warga setempat yang membuka pintu rumah mereka bagi para tamu.

‘Saat ini, sudah ada 30 rumah warga yang kami pilih dan siapkan untuk menjadi tempat tinggal bagi para peserta program ini. Kami ingin wisatawan tidak hanya sekadar ‘mampir’, tapi benar-benar menetap dan merasakan detak jantung kehidupan desa,” jelasSri Wahyuni.

Langkah ini membawa dampak ekonomi yang nyata. Program ini menciptakan ekosistem saling menguntungkan (win-win solution). Selain mendapatkan pengalaman batin bagi wisatawan, pemilik rumah yang terpilih kini memiliki napas ekonomi baru.

Untuk menjaga momentum popularitas program ini, pengelola telah menyusun rencana strategis yang terbagi dalam dua tahap utama demi kenyamanan pengunjung.

Dalam jangka pendek, fokus utama adalah pada perbaikan fasilitas. Hal ini dilakukan agar sarana edukasi dan kenyamanan dasar di area Kampung Susu tetap prima bagi para tamu yang datang setiap harinya.

“Kami memiliki program jangka pendek untuk terus memperbaiki fasilitas yang ada. Sedangkan untuk jangka panjang, kami berencana membangun home stay yang standar untuk wisatawan. Ini penting agar sarana promosi ini berbanding lurus dengan kualitas kunjungan ke Kampung Susu Lawu,” tambahnya.

Langkah ini diambil agar wisatawan  benar-benar bisa menetap lebih lama dengan standar kenyamanan yang terjaga, tanpa kehilangan jati diri pedesaannya.

Dan kesuksesan ini terbukti dengan membludaknya kunjungan dari wisatawan luar kota seperti Surabaya, Solo, dan Jakarta sejak program ini digulirkan.

Ia menyadari bahwa orang kota tidak lagi mencari kemewahan hotel berbintang yang serba seragam. Mereka mencari sesuatu yang berbeda.

Kini, Kampung Susu Lawu bukan lagi sekadar tempat produksi susu. Ia telah bertransformasi menjadi ruang pertemuan dua dunia: warga kota yang mencari ketenangan dan warga desa yang bangga akan identitasnya.

Melalui program “Jika Aku Jadi Orang Desa”, Magetan berhasil membuktikan bahwa wisata terbaik bukanlah tentang seberapa mahal tiketnya, melainkan seberapa dalam kenangan yang dibawa pulang.(Diskominfo / kontrib.tik / fa2 /

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *