Berawal dari panggung kesenian Reog sebagai penabuh gendang, Tiyas Maulana (22) kini sukses memahat jalan hidupnya sendiri. Pemuda asal Dusun Gondang Desa Sidomulyo ini berhasil mengubah peran dari seorang kru menjadi pengrajin topeng barongan yang diperhitungkan, berkat kejeliannya melihat celah bisnis di dunia seni tradisi.
Ia menyadari bahwa permintaan akan topeng barongan selalu melonjak pada musim-musim tertentu, namun ketersediaan stok sering kali terbatas.
“Awalnya saya cuma kru yang pegang gendang. Tapi karena sering kumpul dengan teman-teman Reog, saya lihat banyak yang cari barongan kalau lagi musim ramai tanggapan. Di situ saya mikir, kenapa tidak coba buat sendiri? Celahnya ada, pasarnya jelas,” ujar Tiyas saat ditemui di bengkel kerjanya di Dusun Gondang Desa Sidomulyo.
Untuk menghasilkan karya premium, Tiyas tidak main-main dalam urusan material. Ia mendatangkan kulit pelapis muka barongan langsung dari Ponorogo dan Magetan. Namun, bagi Tiyas, bagian tersulit bukanlah mencari bahan atau memahat kayu, melainkan memberikan “nyawa” pada topeng tersebut melalui lukisan.
Tanpa guru seni, Tiyas mengandalkan skil otodidak untuk menghasilkan guratan macan yang terlihat hidup dan garang.
“Dari semua proses, yang paling sulit itu melukis karakter harimaunya. Garis wajah dan tatapan matanya harus pas supaya terlihat sangar dan berwibawa. Itu semua saya pelajari sendiri, pelan-pelan sampai ketemu karakternya,” ungkap Tiyas.
Sementara proses produksi barongan ini sangat dipengaruhi oleh faktor alam. Kecepatan Tiyas dalam menyelesaikan pesanan sangat bergantung pada kondisi cuaca.
Jika kondisi mendukung dan tidak hujan, ia mampu menuntaskan satu barongan dalam waktu satu bulan, namun jika hujan terus-menerus, pengerjaan bisa memakan waktu lebih dari satu bulan hingga benar-benar siap jual.
Ketekunan Tiyas ini kini membuahkan hasil finansial yang sebanding dengan kerumitan pengerjaannya. Harga yang ditawarkan mencerminkan kualitas handmade yang ia tawarkan.
Untuk barongan ukuran 35 dijual dengan harga Rp 800.000
Sedangkan untuk ukuran 60-75 bisa dijual dengan kisaran harga Rp1.500.000 – Rp2.000.000
Tiyas Maulana tidak hanya sedang mengukir kayu atau memoles kulit.Ia sedang merawat sebuah identitas. Melalui jemari mudanya yang belajar tanpa guru, barongan-barongan itu lahir bukan sekadar sebagai komoditas, melainkan sebagai bukti bahwa tradisi takkan pernah lari dari genggaman generasi yang mau peduli.
Di tangannya, barongan bukan sekadar topeng kayu,ia adalah kemandirian ekonomi yang lahir dari rahim kearifan lokal Desa Sidomulyo.(Diskominfo / kontrib.tik / fa2 /



