Eksotisme ‘Mall Jerami’ Plaosan, Tempat Rezeki Dijemput dengan Adu Lari dan Keteguhan Hati.

Bagi ribuan pelancong yang memacu kendaraan menuju dinginnya Telaga Sarangan, Desa Plaosan hanyalah sepotong jalur berkelok di lereng Gunung Lawu yang dilewati begitu saja.

Mata wisatawan biasanya terpaku pada deretan hutan pinus atau gazebo di pinggir tebing. Padahal, tepat di bahu jalan Desa Plaosan, sebuah pertunjukan kearifan lokal yang eksotis sekaligus heroik tengah dipentaskan setiap fajar menyingsing, sebuah atraksi hidup yang sering kali luput dari bidikan kamera para pelancong.

Selamat datang di Pasar Damen. Sebuah “mall” pakan ternak terbuka yang barangkali menjadi pusat perbelanjaan paling gaduh, paling jujur, dan paling eksotis di seantero Magetan. Di sini, etalase tokonya bukanlah kaca berkilau, melainkan gunungan jerami padi segar yang menebarkan aroma wangi tanah dan matahari.

Bagi orang luar, ini mungkin hanya limbah sawah yang mengering. Namun bagi warga lokal, inilah  “mall” pakan ternak terbuka paling sibuk di Magetan.

Tempat ini adalah urat nadi bagi ribuan peternak sapi dan kambing yang menggantungkan hidupnya pada kesegaran pakan dari lereng Lawu.

Uniknya, di “mall” alami ini, transaksi tidak dimulai dengan sapaan ramah, melainkan dengan sebuah drama adu lari massal demi menjajakan dagangan.

Di sini, Para pedagang langsung melakukan “sprint” massal. Mereka berebut posisi paling depan, saling sikut dengan sportif demi bisa menjajakan jerami lebih dulu.

Kecepatan lari menjadi modal utama, siapa yang berhasil mencegat pembeli tepat di pintu kendaraan sebelum mereka berhenti sempurna, dialah yang berpeluang besar menutup transaksi pagi itu.

Ini adalah kompetisi fisik yang jujur, di mana napas yang tersengal adalah tanda bahwa penawaran terbaik sedang dimulai. Pasar ini. bukan tempat bagi mereka yang lamban.

Pasar Damen juga menjadi solusi bagi para peternak modern yang tak lagi punya waktu untuk ngarit ke hutan. Di sisi lain, ia menjadi panggung bagi petani untuk menyulap limbah sawah menjadi rupiah.

Meskipun transaksinya penuh aksi fisik yang melelahkan dan penuh persaingan, pasar ini memiliki standar harga yang tetap dipatuhi secara fluktuatif layaknya bursa saham.

Di antara kerumunan pedagang  yang berlari kencang di aspal Plaosan, terselip sosok Mbah Sanem (65). Meski rambutnya telah memutih dan langkah kakinya tak lagi selincah dulu, ia adalah pedagang tertua yang masih setia bertahan di “sirkuit” ini. Bagi Mbah Sanem, menjual damen bukan sekadar profesi sampingan, melainkan satu-satunya mata pencaharian andalan.

“Satu-satunya jalan cari uang ya dari damen ini. Mau pasar lagi sepi, mau untung cuma sedikit atau banyak, ya tetap saya jalani. Damen ini sudah jadi tumpuan hidup saya selama puluhan tahun. Selama kaki masih  lari menjajakan jerami ini, saya akan tetap di sini,” ujar Mbah Sanem.

Tak jauh dari sana, ada Pak Sabar (48), yang namanya seolah menjadi ironi di tengah hiruk-pikuk pasar. Di saat pedagang lain berteriak lantang, Pak Sabar mengandalkan ketelitiannya memilih damen kualitas super untuk memikat pembeli langganan.

Namun, urusan lari, ia tak mau kalah. “Kalau tidak lari, ya tidak makan. Di sini sabar itu ada waktunya, tapi kalau ada pembeli datang, ya harus balapan,” selorohnya sambil mengatur napas.

Kehadiran sosok perempuan seperti Ibu Jumilah (42) menambah warna di pasar yang keras ini. Sebagai salah satu dari sedikit perempuan yang bertahan, Jumilah membuktikan bahwa nyali tidak mengenal gender. Dengan gesit, ia ikut berlari di antara kerumunan laki-laki, menjajakan damen dengan senyum yang tetap terjaga. Baginya, setiap ikat jerami yang laku adalah harapan untuk sekolah anak-anaknya.

Pasar Damen Plaosan adalah mutiara kearifan lokal yang selama ini tersembunyi di balik bisingnya knalpot wisatawan.

Di sini, sebuah hukum alam yang keras tetap tegak berdiri, bahwa rezeki tidak akan pernah menghampiri mereka yang hanya duduk berpangku tangan, melainkan ia harus dijemput dengan kecepatan kaki dan keteguhan hati.

Selama kepulan asap dapur di rumah mereka masih bergantung pada tumpukan jerami, mereka akan selalu siap berada di garis start esok pagi.(Diskominfo / kontrib.tik/ fa2 /

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *