Langkah-langkah kaki itu mengayun perlahan menyusuri anak tangga menuju puncak Gunung Bancak, Desa Giripurno, Kecamatan Kawedanan, Kamis (8/10/26). Udara sejuk khas perbukitan Magetan menyapa lembut, mengiringi Bupati Magetan bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan rombongan ziarah Tujuh Makam Leluhur dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Magetan. Di antara deretan situs bersejarah yang dikunjungi hari ini, Kompleks Makam Maduretno dan sang suami, Raden Rangga Prawiradirdja III, selalu menghadirkan nuansa keheningan yang berbeda, dan menjadi sebuah ruang kontemplasi tentang rasa cinta, kesetiaan, dan perjuangan.
Maduretno dan Raden Rangga Prawiradirdja III merupakan pasangan yang mencatatkan namanya dengan tinta emas dalam lembar sejarah tanah Jawa. Menjabat sebagai Wedana Bupati Mancanegara Timur Kesultanan Yogyakarta yang berpusat di Madiun, Raden Rangga memimpin wilayah luas yang mencakup kawasan Magetan. Ia dikenal sebagai sosok bangsawan anti-kolonial yang berani menentang cengkeraman kekuasaan asing di bawah kepemimpinan Herman Willem Daendels pada tahun 1810. Sementara itu, Maduretno berdiri sebagai simbol keteguhan hati dan ketulusan yang setia mendampingi perjuangan sang suami.
Kisah cinta dan keteladanan pasangan ini terpatri abadi di puncak Gunung Bancak. Keterikatan batin yang mendalam membuat Maduretno dimakamkan di perbukitan sunyi tersebut, tempat yang kelak juga menjadi peraduan terakhir bagi Raden Rangga Prawiradirdja III setelah jenazahnya dipindahkan dari Sekar, Bojonegoro, untuk disandingkan kembali di sisi permaisuri tercintanya.
Kehadiran Bupati beserta Forkopimda dalam agenda ziarah ini mempertegas bahwa kegiatan ini bukan sekadar tradisi seremonial tahunan, melainkan sarana “nurut lacak” yaitu mengingat kembali fondasi sejarah dan kearifan lokal yang membentuk identitas Magetan hari ini. Doa bersama yang dipanjatkan jajaran pimpinan daerah di heningnya Gunung Bancak menyatukan pimpinan dan masyarakat dalam satu bingkai rasa syukur serta penghormatan.
Melangkah turun dari puncak Gunung Bancak, ada pesan tersirat yang tertinggal: bahwa kemajuan Magetan dibangun di atas pijakan sejarah yang kokoh, mengalirkan warisan nilai keberanian, keteguhan prinsip, dan kesetiaan bagi generasi penerus.(Diskominfo/fa2)
