Sinergi Lintas Sektor, Kecamatan Bendo Luncurkan Inovasi “Pelita Mageti” untuk Lansia dan Disabilitas

‎Pemerintah Kecamatan Bendo resmi meluncurkan sebuah inovasi sosial-kesehatan baru yang diberi nama Pelita Mageti. Langkah progresif ini diambil guna memastikan pelayanan publik yang lebih inklusif dan menyentuh langsung masyarakat di tingkat akar rumput.

‎ Launching inovasi ini dilaksanakan di aula pertemuan Kecamatan Bendo (Kamis, 16/7/26) yang dihadiri langsung oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdakab Magetan, Sunarti Condrowati; Kepala Dinas Kesehatan; Kepala Dinas Sosial; Kepala UPTD Puskesmas Kecamatan Bendo; serta perwakilan dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Magetan.

‎Acara ini juga disaksikan langsung oleh segenap unsur Forkopimca Kecamatan Bendo, serta para kader kesehatan yang tergabung dalam Paguyuban Kader Kesehatan Bahagia.

‎Inovasi Pelita Mageti ini lahir dari semangat pengabdian tanpa batas.

‎Sapari Anggoro, Ketua Paguyuban Kader Kesehatan di Kecamatan Bendo, mengisahkan perjalanan panjang terbentuknya paguyuban ini. Berawal dari inisiatifnya mengumpulkan para kader lansia dari 16 desa dan kelurahan se-Kecamatan Bendo untuk sekadar bersilaturahmi dan berkegiatan sehat seperti senam kebugaran bersama.

‎Namun, seiring keluarnya keputusan Kementerian Kesehatan yang berdampak pada penghapusan nomenklatur kader lansia, Sapari sempat dihadapkan pada pilihan sulit untuk membubarkan atau melanjutkan kelompok ini.

‎ “Mengumpulkan orang satu kecamatan itu repotnya luar biasa. Karena kami di sini sudah menjalin hubungan persaudaraan, akhirnya kami sepakat untuk terus lanjut. Kami ganti namanya menjadi Paguyuban Kader Kesehatan Bahagia dengan harapan semua anggotanya bisa selalu bahagia,” ungkap Sapari .

‎Semangat luar biasa dari para kader inilah yang kemudian ditangkap dan diwadahi oleh Pemerintah Kecamatan Bendo agar memiliki dampak yang jauh lebih besar dan terstruktur secara hukum.

‎Camat Bendo, Hermin, menuturkan bahwa inovasi Pelita Mageti ini memang berakar dari gerakan tulus para kader tersebut yang kini telah diperkuat dengan payung hukum yang jelas.

‎”Inovasi ini berawal dari Kader Kesehatan Bahagia. Agar Paguyuban ini bisa berdampak lebih luas, khususnya bagi lansia dan disabilitas, kita arahkan agar ada SK sehingga legal formalnya bisa resmi. Dengan begitu, mereka bisa berkolaborasi dengan seluruh elemen yang ada, antara lain dengan Dinas Kesehatan, Dinsos, dan BAZNAS yang memberikan support dan bantuan. Semangat utama kami adalah No One Left Behind—tidak boleh ada satu pun warga, terutama kelompok rentan seperti lansia dan disabilitas, yang tertinggal atau luput dari perhatian pemerintah,” jelas Hermin.

‎Lebih lanjut, Camat Bendo menjelaskan bahwa jangkauan dari inovasi Pelita Mageti ini akan dikembangkan secara komprehensif, tidak hanya menyentuh aspek kesehatan semata.

‎ “Ke depan, program ini bukan hanya terkait kesehatan saja, tapi seluruh sisi kehidupan lansia dan disabilitas. Ini termasuk di dalamnya terkait layanan kesehatan, asesmen BPJS Kesehatan, program Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT DD), maupun terkait sanitasi rumah yang masuk dalam program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Setiap bulan, kami melakukan kunjungan dan pemeriksaan gratis lansia dan disabilitas untuk 2 desa dengan target 4 sasaran warga,” tambahnya.

‎Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdakab Magetan, Sunarti Condrowati, menegaskan pentingnya terobosan dalam pelayanan publik yang langsung menyentuh masyarakat bawah.

‎ “Inovasi ini bukan hanya sekadar catatan. Sebagai pelayan publik, tentunya harus ada terobosan-terobosan dalam rangka memberikan kemudahan pelayanan dan memuaskan masyarakat. Salah satunya lewat inovasi Pelita Mageti ini, di mana sudah ada sistem jemput bola. Ini hal yang luar biasa, sehingga masyarakat yang selama ini terpinggirkan seperti lansia dan disabilitas mendapatkan penanganan prioritas. Melalui ini, pemerintah hadir di dalam kehidupan masyarakat yang membutuhkan,” tutur  Condro.

‎Lebih lanjut Condro juga menekankan pentingnya menghilangkan ego sektoral antar-Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar program seperti Posyandu dan gerakan Kader Kesehatan Bahagia ini dapat berjalan berkesinambungan demi kepentingan masyarakat.

‎”Tentu semua OPD mempunyai tugas tersebut, yang mana perlu dikolaborasikan… Kita ini bekerja untuk Magetan. Jadi tidak bekerja di masing-masing dinas atau kecamatan saja, tapi semua berkolaborasi untuk masyarakat Kabupaten Magetan yang kita cintai,” tegasnya.

‎Menutup arahannya, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat ini mengajak seluruh pihak untuk menyatukan semangat gotong royong demi kemajuan daerah.

‎ “Magetan kumandang, yen kabeh tumandang (Magetan akan menggema dan maju, jika semua orang mau ikut bergerak dan bekerja bersama-sama),” pungkasnya.(Diskominfo / kontrib.bst / fa2 /

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *