Percikan api las menyala berulang kali di sebuah ruangan praktik di UPTD SPNF Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Maospati, Kabupaten Magetan. Di balik helm pelindung yang sedikit kebesaran, seorang remaja tampak serius menempelkan besi demi besi. Tangannya masih kaku. Sesekali ia berhenti, lalu memperhatikan hasil las yang belum benar-benar rapi.
Namanya Rian.Usianya hampir lulus sekolah.Ia bukan siswa SMK teknik. Ia juga bukan anak dari keluarga pengusaha bengkel besar. Rian hanyalah satu dari puluhan siswa menempuh pendidikan lewat jalur nonformal. “Ya suka,” jawabnya pendek saat ditanya mengapa tertarik belajar las.
Jawaban itu terdengar sederhana. Namun di balik singkatnya ucapan itu, ada harapan yang diam-diam sedang ia bangun sendiri. Rian berasal dari Kembangan. Ia kini duduk di kelas 12 Paket C setara SMA di SKB Maospati. Setiap minggu ia mengikuti pelatihan pengelasan bersama teman-temannya. Hari itu ia sedang membuat rak besi. Belum ada rencana besar setelah lulus nanti. Ketika ditanya ingin bekerja di mana, ia hanya tersenyum kecil. “Mungkin di sini saja. Dekat rumah,” katanya lirih.
Di tempat lain, mungkin jawaban seperti itu terdengar biasa. Tetapi di SKB Maospati, mimpi-mimpi sederhana justru menjadi sesuatu yang sangat berarti. Karena sebagian besar siswa di sana datang bukan dengan perjalanan pendidikan yang mulus. Mereka adalah anak-anak yang pernah tertinggal.
Pagi itu suasana SKB Maospati terasa tenang. Beberapa siswa datang mengenakan pakaian bebas. Tidak ada hiruk pikuk seperti sekolah formal pada umumnya. Di halaman depan, beberapa siswa bercanda sambil membawa tas lusuh. Sebagian lagi berjalan pelan menuju ruang kelas. Tempat itu memang berbeda.
SKB Maospati menjadi ruang kedua bagi anak-anak yang gagal bertahan di sekolah formal, bagi remaja yang sempat putus sekolah, hingga orang-orang yang pernah menyerah pada pendidikan. Kepala UPTD SPNF SKB Maospati, Winarno Basuki, memahami betul kenyataan itu.
Selama bertahun-tahun ia bertemu banyak anak dengan cerita hidup yang tidak sederhana. Ada yang keluar sekolah karena masalah ekonomi. Ada yang kecanduan game dan telepon genggam hingga berbulan-bulan tak masuk kelas. Ada pula anak perempuan yang terpaksa berhenti sekolah karena hamil di usia muda. “Yang pindah dari sekolah formal itu banyak sekali masalahnya,” kata Winarno pelan.
Namun di tempat itu, mereka tidak dihakimi. SKB justru menjadi tempat bagi mereka untuk memulai ulang. “Intinya ini wujud kehadiran pemerintah untuk anak-anak yang tidak bisa terlayani sekolah formal,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar formal. Tetapi ketika melihat langsung bagaimana guru-guru di sana bekerja, maknanya terasa sangat manusiawi. Guru-guru di SKB Maospati tidak hanya mengajar di kelas. Mereka mendatangi rumah siswa satu per satu. Mereka mencari anak-anak yang lama menghilang dari sekolah.
Kadang mereka mendapat informasi dari perangkat desa. Kadang dari tetangga sekitar. Ada anak yang malu kembali sekolah karena usianya sudah terlalu tua. Ada pula yang merasa dirinya sudah gagal. “Teman-teman sering home visit. Datang ke rumah-rumah anak yang sudah lama tidak sekolah,” tutur Winarno.
Bagi sebagian anak, kedatangan guru itu menjadi titik balik hidup mereka. Di ruang kelas lain, seorang remaja berkacamata duduk sambil memperhatikan materi jurnalistik. Namanya Istikar Farukh Zonore. Teman-temannya memanggilnya Setiq. Berbeda dengan Rian yang lebih banyak diam, Setiq tampak lebih tenang saat berbicara. Ia berasal dari Bojonegoro dan kini tinggal di pondok pesantren Sintesa yang mempelajari keagamaan dan digital marketing dan tidak ada sekolah formal.
Sejak kecil ia suka menulis tentang sejarah Islam. Tentang kisah-kisah ulama. Tentang agama yang ia baca dari buku lalu ia tulis ulang di buku catatan. Ketika mengikuti pelatihan jurnalistik di SKB, Setiq merasa menemukan sesuatu yang dekat dengan dirinya. “Kegiatan ini bagus karena mengajarkan bagaimana menyampaikan berita yang benar dan tidak salah tulis,” ujarnya.
Ia percaya tulisan bisa membantu banyak orang. Setiq bercita-cita menjadi seorang da’i. Di tengah dunia yang semakin ramai media sosial, ia ingin berdakwah bukan hanya lewat ceramah, tetapi juga lewat tulisan. “Para ulama dulu juga meninggalkan tulisan,” katanya.
Ia lalu tersenyum malu-malu. “Terkadang orang sekarang malas buka buku. Jadi tulisan di media sosial bisa membantu orang belajar agama.”
Di usianya yang masih sangat muda, Setiq sudah memahami bahwa kata-kata memiliki kekuatan. Dan SKB Maospati memberinya ruang untuk tumbuh.
Bagi banyak orang, sekolah nonformal sering dipandang sebelah mata. Masih ada anggapan bahwa pendidikan kesetaraan adalah “pilihan terakhir” bagi anak-anak yang gagal di sekolah formal. Tetapi di SKB Maospati, stigma itu perlahan dipatahkan. Winarno menyebut banyak lulusan Paket C berhasil melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi negeri. Ada pula yang langsung bekerja setelah memiliki keterampilan. Karena itu, SKB tidak hanya fokus pada ijazah.
Anak-anak juga dibekali kemampuan hidup. Mulai komputer, tata boga, menjahit, hingga pengelasan. “Kalau anak kesetaraan dituntut sama persis dengan sekolah formal tentu tidak bisa,” ujar Winarno. “Makanya mereka harus punya nilai plus dari keterampilan.”imbuhnya.
Di ruangan praktik las, instruktur Kurniadi memahami benar pentingnya bekal itu.
Menurutnya, dunia industri saat ini membutuhkan banyak tenaga kerja keterampilan. Karena itu, siswa diajarkan langsung dari dasar. Mulai mengenali alat, memahami kekuatan las, hingga praktik membuat rangka besi. “Supaya nanti ketika terjun ke masyarakat mereka punya bekal,” katanya.
Bagi sebagian siswa, keterampilan itu mungkin akan menjadi jalan pertama untuk bertahan hidup. Dan bagi guru-guru di SKB, hal kecil seperti itu sudah cukup berarti. SKB Maospati sudah berdiri sejak tahun 1975. Awalnya bernama Lembaga Pengabdian Masyarakat sebelum berubah menjadi SKB pada tahun 1990-an. Bangunannya kini cukup lengkap. Ada ruang komputer, televisi pintar, hingga ruang keterampilan. Namun kekuatan utama tempat itu bukanlah fasilitasnya. Melainkan cara mereka memandang setiap anak.
Di SKB Maospati, anak yang pernah gagal tidak dianggap selesai. Anak yang tertinggal tidak dianggap bodoh. Dan anak yang putus sekolah tidak dipandang sebagai akhir masa depan. Di tempat itu, mereka hanya dianggap sedang membutuhkan jalan lain. Menjelang siang, suara gerinda kembali terdengar dari ruang praktik. Rian masih sibuk menyelesaikan rak besinya.
Keringat mulai membasahi dahinya. Sesekali ia tertawa kecil bersama teman-temannya. Mungkin hasil lasnya belum sempurna. Mungkin ia juga belum benar-benar tahu masa depannya akan seperti apa. Tetapi setidaknya hari itu, Rian sedang belajar berdiri di atas kemampuannya sendiri. Dan kadang, bagi anak-anak yang pernah tertinggal, kesempatan untuk mencoba lagi adalah bentuk harapan paling besar dalam hidup mereka.(Diskominfo / kontrib.skc / fa2 /




