Di Balik Angka dan Rumus, Guru-Guru Magetan Cari Cara Agar Anak Tak Lagi Takut Matematika

Suara tepuk tangan dan nyanyian terdengar dari sebuah ruang pelatihan di Magetan. Di sela musik yang diputar cukup keras, beberapa siswa tampak tertawa sambil berebut menjawab soal hitungan sederhana. Tidak ada wajah tegang. Tidak ada suasana kelas yang sunyi seperti biasanya.

Di sudut ruangan, lagu-lagu campursari milik Denny Caknan terdengar mengalun. Seorang siswa laki-laki sesekali ikut bernyanyi kecil sambil tetap fokus menjawab pertanyaan guru tentang perkalian dan penjumlahan.Dia adalah Tiyo Ramadani, siswa kelas 7 SMP Negeri 1 Kawedanan.

Bagi Tiyo, matematika dulu menjadi pelajaran yang paling sulit dipahami. Ia mengaku hampir tidak pernah mendapatkan nilai sempurna karena kesulitan memahami angka dan rumus.“Kalau matematika sering bingung. Nilai 100 belum pernah,” ujarnya lirih.

Namun lima hari mengikuti pelatihan metode GASING (Gampang, Asyik dan Menyenangkan), perlahan rasa takut itu mulai hilang. Tiyo kini mampu menyelesaikan penjumlahan hingga perkalian lebih dari dua digit dengan cepat. Bahkan untuk pertama kalinya, ia berhasil mendapatkan nilai 100.Di tengah pelatihan, guru sesekali mengajak Tiyo menari sambil terus menjawab soal hitungan. Anehnya, suasana ramai dan musik keras justru membuatnya lebih nyaman belajar.“Kalau ada musik malah lebih masuk. Jadi nggak tegang,” katanya sambil tersenyum malu.

Tiyo mengaku lebih mudah menerima penjelasan guru ketika pembelajaran dibuat santai dan menyenangkan. Baginya, belajar matematika sambil mendengarkan musik terasa jauh berbeda dibanding suasana kelas yang biasanya hening.Anak laki-laki itu juga punya mimpi besar. Ia bercita-cita bekerja di Jepang untuk membantu perekonomian keluarganya.

Ayahnya sehari-hari bekerja sebagai sopir.“Saya ingin kerja di Jepang biar bisa bantu orang tua,” ucapnya pelan.

Cerita Tiyo menjadi gambaran bagaimana banyak anak sebenarnya bukan tidak mampu memahami matematika, melainkan belum menemukan cara belajar yang tepat.

Guru SMP Negeri 1 Barat, Sudarwati, mengaku selama bertahun-tahun mengajar matematika ia sering menemui siswa yang langsung kehilangan semangat begitu pelajaran dimulai. “Kalau dengar matematika saja banyak anak sudah takut duluan,” ujarnya.

Di dalam kelas, ia kerap melihat siswa sebenarnya mampu, tetapi memilih diam karena takut salah menjawab. Ketika guru bertanya, hanya beberapa anak yang berani mengangkat tangan. Sisanya menunduk, berharap tidak ditunjuk.Sebagai guru, Sudarwati memahami situasi itu. Namun di sisi lain, target materi pelajaran tetap harus selesai. Waktu belajar terbatas, sedangkan kemampuan siswa berbeda-beda.“Kadang guru akhirnya fokus mengejar materi. Anak yang belum paham sering tertinggal,” katanya.

Ia mengakui selama ini metode pembelajaran matematika di sekolah masih cenderung konvensional. Guru berdiri di depan kelas, menjelaskan rumus, lalu siswa diminta mengerjakan soal. Tidak sedikit siswa yang akhirnya hanya menghafal tanpa benar-benar memahami prosesnya.“Anak-anak sering hafal jawaban, tapi tidak mengerti kenapa hasilnya begitu,” tutur Sudarwati.

Kesulitan itulah yang kini coba dijawab melalui pelatihan metode GASING di Magetan. Dalam metode ini, guru tidak hanya mengajar dengan papan tulis dan angka, tetapi juga menggunakan permainan, alat peraga, musik, hingga gerakan tubuh.Bagi sebagian guru, cara itu awalnya terasa asing.“Awalnya kami juga bingung. Karena selama ini pemahaman kita belajar itu harus tenang, anak duduk rapi,” katanya sambil tertawa kecil.

Namun perlahan mereka mulai melihat perubahan. Anak-anak yang biasanya takut justru mulai aktif menjawab. Mereka berani bersuara meski belum tentu benar.“Yang penting mereka berani dulu. Kalau salah nanti diperbaiki,” ujarnya.

Perubahan serupa juga dirasakan guru matematika lainnya, Bu Nesi. Ia menyebut salah satu tantangan terbesar mengajar matematika bukan soal rumus, melainkan menghilangkan rasa takut siswa terhadap pelajaran itu sendiri.“Kadang anak itu sebenarnya bisa, tapi sudah takut duluan sama matematikanya,” katanya.

Menurutnya, suasana belajar yang terlalu tegang membuat siswa sulit berkonsentrasi. Sebaliknya, ketika pembelajaran dibuat lebih santai dan interaktif, anak-anak justru lebih mudah memahami.“Kalau suasananya cair, mereka lebih aktif. Tidak takut salah,” ucapnya.

Trainer metode GASING dari tim Profesor Yohanes Surya, Witnny Stesia Warauw, mengatakan ketakutan terhadap matematika memang menjadi persoalan yang sering ditemui di banyak sekolah.“Anak-anak itu sebenarnya pintar. Tapi mereka belum menemukan metode belajar yang sesuai,” ujarnya.

Menurut Witnny, selama ini banyak siswa dipaksa menghafal tanpa memahami konsep dasar. Akibatnya, ketika materi semakin sulit, anak kehilangan kepercayaan diri dan akhirnya membenci matematika.“Kalau dari awal sudah takut, anak akan merasa matematika itu menakutkan terus,” katanya.

Karena itu, metode GASING lebih menekankan pemahaman konkret sebelum masuk ke rumus abstrak. Anak diajak memahami angka lewat benda nyata dan permainan sederhana.Bagi guru-guru di Magetan, pelatihan itu bukan sekadar belajar metode baru. Lebih dari itu, mereka sedang mencari cara agar anak-anak tidak lagi melihat matematika sebagai pelajaran yang menyeramkan.

Dan bagi Tiyo Ramadani, matematika kini bukan lagi pelajaran yang harus ditakuti. Di tengah musik campursari yang terus diputar, ia mulai percaya bahwa angka-angka itu ternyata bisa dipahami dengan cara yang menyenangkan.(Diskominfo / kontrib.skc / fa2 /

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *