Di tepian Telaga Sarangan, Kabupaten Magetan, riak air tak hanya menjadi latar wisata, tetapi juga saksi kebangkitan sebuah cabang olahraga yang sempat redup, ski air. Di balik geliat itu, ada sosok Rudy, pelatih yang membangun prestasi dari keterbatasan, bahkan tanpa pendidikan formal kepelatihan.
“Kalau dibilang sekolah pelatih, nggak sama sekali. Semua otodidak,” ujarnay ditemui di Mojoesmi Forest Park Minggu (3/5/26)
Rudy memang bukan nama asing di Sarangan. Ia saat ini menjabat sebagai Direktur Mojosemi Forest Park. Namun, kiprahnya di dunia ski air justru lahir dari kegelisahan melihat potensi lama yang nyaris hilang. Ia mulai merintis kembali sejak pulang kampung pada 2009.
“Waktu itu saya lihat, ini potensi besar. Dulu Sarangan sudah punya sejarah ski air panjang, tapi kok nggak dikembangkan lagi,” katanya.
Sejarah yang dimaksud Rudy bukan cerita biasa. Ia menuturkan, ski air sudah dikenal di Sarangan sejak era 1960–1970-an, dibawa oleh teknisi asing yang bekerja di Indonesia. Warga lokal kemudian belajar secara mandiri, bahkan membuat papan ski sendiri dari kayu.
“Orang Sarangan dulu itu belajar dari orang Australia. Papannya dari kayu jati, engine-nya juga sederhana. Tapi semangatnya luar biasa,” kenangnya.
Kejayaan sempat dirasakan pada era 1980-an. Pertunjukan ski air menjadi magnet wisata. Ribuan orang rela berjalan kaki demi menyaksikan atraksi akrobatik di atas air. Namun, masa itu tak bertahan lama.
“Setelah para sesepuhnya nggak ada, kegiatan ini vakum. Tinggal main biasa saja, tanpa konsep,” kata Rudy.
Situasi itulah yang mendorongnya bergerak. Ia mulai merangkul kembali komunitas lama, belajar teknik secara mandiri, hingga akhirnya ikut terjun langsung sebagai pelatih.
“Saya mikir, kalau saya ngajak orang lain, saya harus bisa dulu. Ternyata sekali nyoba langsung bisa. Dari situ saya yakin ini jalan saya,” ungkapnya.
Dengan peralatan seadanya, Rudy mulai melatih anak-anak Sarangan. Papan dibuat sendiri, tali menggunakan bahan sederhana, bahkan perahu penarik hanya bermesin kecil. Namun, keterbatasan itu justru menjadi kekuatan.
“Kita pakai tali tambang biasa, papan bikin sendiri. Yang penting anak-anak bisa jalan dulu di atas air,” katanya.
Hasilnya tak main-main. Dalam waktu singkat, atlet binaannya mampu menembus kejuaraan daerah hingga nasional. Pada 2010–2011, atlet Magetan bahkan menyumbang medali untuk Jawa Timur hingga meraih juara umum.
“Anak-anak kita bisa bersaing dengan atlet dari Surabaya yang fasilitasnya lengkap. Itu kebanggaan luar biasa,” ucap Rudy.
Prestasi itu pula yang mengantarkannya meraih predikat pelatih terbaik Jawa Timur pada 2014. Namun, ia menilai penghargaan tersebut bukan semata miliknya.
“Ini bukan kerja saya sendiri. Ini kerja tim. Dari yang bikin papan, yang benerin mesin, semua terlibat,” tegasnya.
Meski sempat berjaya, perjalanan ski air Magetan kembali mengalami pasang surut. Minimnya perhatian, keterbatasan fasilitas, dan kurangnya regenerasi membuat pembinaan tersendat. “Masalahnya klasik, fasilitas mahal, SDM terbatas, dan perhatian kurang. Padahal potensinya besar,” kata Rudy.
Namun harapan kembali muncul. Bibit-bibit baru mulai terlihat, salah satunya Hanan dan Nohan, dua pelajar yang baru mengenal ski air pada akhir 2025, tetapi langsung menorehkan prestasi.
“Baru latihan sekitar sebulan, terus ikut kejuaraan provinsi, nggak nyangka bisa juara tiga,” kata Hanan atau pemilik nama Kanohanan Abimanyu pelajar kelas 8 SMP N 1 Magetan tersebut.
Ia mengaku awalnya hanya ikut ajakan Rudy tanpa bayangan menjadi atlet. “Awalnya cuma diajak, ‘mau coba ski air nggak?’ Ya saya coba. Ternyata ada harapan di situ,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Nohan Rembulan Rofiansyah pelajat kelas XI SMA N 1 Magetan yang tak lain kaka dari Hanan. Ia mengaku sempat khawatir saat pertama kali bertanding.
“Takut jatuh, takut nggak maksimal. Tapi kita fokus jaga keseimbangan sampai finish,” katanya.
Meski berprestasi, keduanya masih menghadapi kendala klasik, peralatan. “Masih pinjam. Kita cuma punya life jacket. Latihan juga terbatas, seminggu sekali,” ujar Hanan.
Di balik semangat mereka, ada dukungan orang tua yang tak kalah penting. Imam Subqhi Rofiansyah ayah dari salah satu atlet, mengaku awalnya tak menyangka anaknya akan terjun ke ski air.
“Awalnya cuma lihat peluangnya masih besar. Atletnya masih sedikit. Saya pikir ini kesempatan,” katanya.
Ia bahkan rela mengantar anaknya berlatih ke luar daerah demi perkembangan kemampuan.
“Yang penting anak berani dulu. Soal juara itu bonus. Yang penting mentalnya terbentuk,” tegasnya.
Kini, Rudy bersama komunitasnya tengah berupaya membangun kembali fondasi ski air Magetan. Ia mendorong pembentukan kepengurusan resmi agar pembinaan lebih terarah.
“Kita butuh organisasi yang kuat. Harus ada dukungan pemerintah, KONI, dan semua stakeholder,” ujarnya.
Ia optimistis, momentum kebangkitan ini bisa dimanfaatkan, terutama menjelang Porprov 2027.
“Ini saat yang tepat. Bibit sudah ada, potensi ada. Tinggal konsistensi dan dukungan,” katanya.
Bagi Rudy, ski air bukan sekadar olahraga. Ia adalah warisan, potensi wisata, sekaligus jalan prestasi bagi generasi muda.
“Ini dua sisi mata uang. Olahraga jalan, pariwisata juga hidup,” ujarnya.
Di Telaga Sarangan, riak air kini kembali membawa harapan. Dari papan kayu sederhana, mimpi besar kembali dibangun bahwa Magetan bisa kembali menjadi pusat ski air, seperti dulu.(Diskominfo / kontrib.skc / fa2 /



