Merawat Tradisi Syukur Melalui Pengantin Tebu Jelang Musim Giling di PG Redjo Sari.

Fajar baru saja merekah di Desa Pingkuk, Kecamatan Bendo,  Kabupaten Magetan, sebuah wilayah agraris di lereng Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan. Kabut tipis masih menggantung di antara hamparan kebun tebu yang membentang luas. Di sela dedaunan yang basah oleh embun, aktivitas warga sudah dimulai lebih awal dari biasanya. Hari itu bukan hari biasa, sebuah tradisi turun temurun kembali digelar: prosesi pengantin tebu, penanda dimulainya musim giling.

Di desa ini, tebu bukan sekadar komoditas. Ia adalah nadi kehidupan. Hampir seluruh lahan ditanami tebu, sebuah kebiasaan yang sudah berlangsung sejak masa kolonial.

“Dari dulu memang di sini tebu semua,” ujar Sumaryono, petani setempat. Ia menyebut, tradisi bertani tebu sudah diwariskan lintas generasi, bahkan lebih dari tiga turunan. “Sudah dari zaman nenek moyang,” katanya.

Prosesi pengantin tebu dimulai beberapa hari sebelum puncak acara. Suwarman, petani Desa Pingkuk, menjelaskan bahwa tahap awal adalah mencari sepasang tebu terbaik di kebun. “Kita persiapan lima hari,” ujarnya. Tidak semua tebu bisa dipilih. Hanya yang memenuhi kriteria tertentu yang layak dijadikan “pengantin”.

“Kriterianya harus sejajar, ruasnya sama, besarnya hampir sama, dan tidak ada penyakit,” kata Widodo, warga Pingkuk. Ia menambahkan, bagi yang sudah berpengalaman, pasangan tebu itu bisa dikenali dari kejauhan. “Kalau yang sudah sering milih, dari jauh sudah kelihatan,” ujarnya.

Sepasang tebu ini kemudian dianggap sebagai simbol laki-laki dan perempuan. Dalam istilah petani, mereka disebut “gandeng”sepasang yang serasi. “Yang dipilih itu yang terbaik, yang gandeng, satu pasang,” kata Widodo.

Setelah ditemukan, proses pengambilan tebu dilakukan dengan cara khusus. Tidak ditebang, melainkan dicabut hingga ke akar. “Harus sampai akar, tidak boleh ditebas,” tegas Suwarman. Cara ini diyakini sebagai simbol keutuhan, bahwa harapan yang ditanam tidak boleh terputus.

Dari kebun, tebu kemudian dibawa keluar untuk menjalani prosesi siraman. Batang tebu dimandikan dengan air, seperti ritual pembersihan dalam tradisi Jawa. Prosesi ini menjadi simbol penyucian sebelum memasuki tahap berikutnya. “Dimandikan, siraman,” kata Suwarman singkat.

Setelah itu, pengantin tebu dihias layaknya manusia yang akan menikah. Batang tebu dibalut kain jarik atau mori, dihiasi janur dan bunga. Dalam balutan tersebut, tebu menjelma menjadi simbol kehidupan, mengandung harapan akan kesuburan dan kemakmuran.

Suasana Desa Pingkuk kemudian berubah menjadi lebih semarak. Iringan gamelan mulai terdengar, menandai dimulainya kirab. Pengantin tebu diarak dari desa menuju PG Redjo Sari. Barisan panjang mengikutinya, petani, tokoh masyarakat, hingga pihak pabrik gula. Kirab ini bukan sekadar arak-arakan, melainkan simbol perjalanan hasil bumi dari ladang menuju industri. Di sepanjang jalan, warga menyaksikan dengan penuh antusias, seolah mengiringi harapan mereka sendiri.

Sesampainya di pabrik, prosesi berlanjut ke tahap temu manten. Dua batang tebu dipertemukan seperti pengantin manusia. Momen ini melambangkan penyatuan dan keseimbangan. Dalam keyakinan masyarakat, keseimbangan ini akan membawa keberkahan bagi musim giling.

Doa bersama kemudian dipanjatkan. Tokoh agama dan sesepuh memimpin selamatan, memohon keselamatan selama musim giling serta hasil yang melimpah. Tumpeng dan sesaji tradisional turut dihadirkan sebagai wujud syukur.

Puncak prosesi terjadi ketika pengantin tebu diserahkan ke mesin giling. Dengan penuh simbol, batang tebu itu menjadi yang pertama diproses. Deru mesin mulai terdengar, menandai dimulainya musim giling secara resmi.

Bagi masyarakat Pingkuk, tradisi ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah bagian dari identitas. “Kalau tidak dilakukan, rasanya ada yang hilang,” kata Sumaryono.

Di tengah modernisasi, tradisi ini tetap bertahan. Ia menjadi pengingat bahwa di balik setiap butir gula, ada kerja keras, ada doa, dan ada budaya yang terus dijaga.

Sementara itu, di sisi lain kegiatan, manajemen PG Redjo Sari menaruh harapan besar pada musim giling tahun ini. General Manager PG Redjo Sari, Andris, menyebut pembukaan giling 2026 sebagai momentum penting. “Hari ini kita puncaknya ritual selamatan giling tahun 2026,” ujarnya.

Ia menjelaskan, target tebu tergiling tahun ini mencapai 3.700 hektar, meningkat dari tahun sebelumnya. Dengan target tersebut, produksi gula diproyeksikan mencapai sekitar 26 ribu ton. “Ini target yang cukup besar,” katanya.

Andris juga menyinggung kondisi cuaca yang lebih mendukung dibanding tahun lalu. “Tahun kemarin kendalanya hujan sepanjang musim giling,” ujarnya. Tahun ini, ia optimistis hasil akan lebih baik. “Harapannya bisa melonjak dibanding tahun 2025,” tambahnya.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya sinergi antara petani dan pabrik. “Kita memanen bersama. Motonya pabrik untuk petani sejahtera,” katanya.

Harapan itu sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mulai membatasi impor gula. Menurut Andris, kondisi ini berpotensi meningkatkan harga gula di pasaran. “Kalau impor sudah dibatasi, insyaallah harga gula akan semakin naik,” ujarnya.

Namun bagi warga Pingkuk, lebih dari sekadar angka produksi dan harga pasar, tradisi pengantin tebu tetap menjadi ruh utama. Ia adalah titik awal, tempat doa dipanjatkan, harapan dititipkan, dan kebersamaan dirayakan.

Di pagi yang dingin itu, ketika matahari mulai naik perlahan, Desa Pingkuk kembali membuktikan satu hal: bahwa dari sepasang batang tebu, bukan hanya gula yang dihasilkan, tetapi juga cerita panjang tentang budaya, kehidupan, dan harapan yang tak pernah putus.(Diskominfo / kontrib.skc / fa2 /

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *