Narto, Peternak Sapi Magetan Sulap Kotoran Sapi Jadi Biogas, Tekan Biaya Energi Rumah Tangga

Seorang peternak sapi perah di Desa Jabung, Kecamatan Panekan, Bernama Pak Naryo, kreatif lakukan inovasi, memanfaatkan limbah kotoran sapi untuk diubah menjadi energi alternatif berupa biogas. Inovasi ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga membantu menekan kebutuhan gas elpiji (LPG) untuk rumah tangga.

Di kandangnya, Pak Naryo memelihara sekitar 45 ekor sapi, baik sapi perah produktif, sapi bunting, maupun pedet. Dari jumlah tersebut, limbah kotoran yang dihasilkan setiap hari cukup melimpah dan sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal. Kini, kotoran sapi tersebut diolah melalui instalasi biogas dengan kapasitas sekitar 7 meter kubik. Sistem ini mulai digunakan sejak Oktober 2025, hasil kolaborasi dengan Universitas PGRI Madiun dan Dinas Peternakan setempat.
“Kotoran sapi dari kandang langsung dialirkan ke digester. Di situ difermentasi dan menghasilkan gas yang bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Pak Naryo.

Dalam satu kali pengisian, instalasi biogas menampung sekitar 500 kilogram limbah kotoran sapi. Proses pengisian dilakukan dua kali dalam seminggu agar fermentasi berjalan optimal. Dari sekitar 40 ekor sapi, setiap hari dihasilkan limbah sekitar 20 kilogram per ekor. Jumlah tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan energi rumah tangga.
“Biogas ini bisa dipakai setiap saat. Saat ini sudah dimanfaatkan untuk empat rumah di sekitar kandang,” jelasnya.

Pemanfaatan biogas tersebut terbukti mampu mengurangi penggunaan LPG, terutama untuk kebutuhan memasak dan merebus air. Meski begitu, dalam kondisi tertentu peternak masih menggunakan LPG untuk efisiensi waktu.
“Kalau untuk masak sehari-hari sudah sangat membantu, pemakaian LPG jauh berkurang,” tambahnya.

Tidak hanya menghasilkan energi, limbah sisa dari proses biogas juga dimanfaatkan menjadi pupuk organik. Ampas dari digester dikeringkan dan diolah sebelum digunakan atau dibagikan kepada petani sekitar.
“Pupuknya kita pakai sendiri dan juga untuk petani. Hasilnya bagus untuk memperbaiki struktur tanah,” ujarnya.
Pak Naryo menilai, sistem peternakan terintegrasi seperti ini menjadi solusi berkelanjutan. Selain meningkatkan nilai tambah dari limbah, juga mendukung pertanian ramah lingkungan.
“Kalau peternakan dikelola terintegrasi, tidak ada yang terbuang. Semua bisa dimanfaatkan,” tegasnya.

Ke depan, ia berharap pemanfaatan biogas bisa dikembangkan lebih luas, sehingga semakin banyak peternak dan masyarakat yang merasakan manfaatnya, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan.(Diskominfo / kontrib.skc / fa2 /

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *