Di balik segarnya es buah atau kolak yang membasahi tenggorokan saat azan Magrib berkumandang, ada proses panjang yang menguras keringat. Janggelan, atau cincau hitam, menjadi primadona tak tergantikan selama bulan Ramadhan. Namun, bagi Dina di Desa Tanjungsari, Kabupaten Magetan, proses membuatnya ternyata tak semudah menikmatinya.
Menghadapi lonjakan permintaan yang ekstrem setiap tahunnya, Dina tidak mau ambil risiko. Sejak awal tahun, ia sudah menyiapkan benteng bahan baku di gudangnya dalam jumlah yang fantastis.
Tak tanggung-tanggung, sekitar 10 ton daun janggelan kering dan 20 ton tepung disiapkan sebagai stok utama. Persiapan matang ini menjadi kunci agar tungku-tungku di rumahnya tetap mengepul sepanjang bulan suci tanpa kendala bahan baku, meski permintaan pasar sedang menggila.
Membuat janggelan yang “pas” di lidah adalah soal waktu. Daun-daun kering itu direbus, diperas, dan diaduk dengan presisi yang tinggi. Butuh waktu 10 jam dari proses perebusan awal hingga adonan siap membeku menjadi gel.
Menuntut kesabaran ekstra. Dibutuhkan waktu berjam-jam, bahkan mencapai 10 jam untuk mengubah daun kering menjadi gel hitam yang kenyal. Mulai dari Perebusan sampai Proses pengadukan adonan.
“Orang hanya tahu belinya sudah jadi di pasar. Padahal, dari mulai merebus sampai siap dikemas itu butuh proses yang sangat lama dan melelahkan,” ujar Dina di sela kesibukannya.
Ledakan pesanan selama Ramadhan membawa berkah bagi warga sekitar. Jika di hari biasa usaha ini cukup dikelola oleh 4 orang anggota keluarga, khusus di bulan Ramadhan, Dina harus menambah 8 pegawai tambahan.Saling bahu-membahu untuk memenuhi target yang luar biasa dimana pada hari biasa: 400 – 500 drum per bulan.
Sedangkan pada Bulan Ramadhan seperti sekarang ini 7.000 hingga 8.000 drum ludes diburu pelanggan.
Menariknya, pelanggan terbanyak justru bukan berasal dari Magetan sendiri. Para pedagang dari kabupaten tetangga, yakni Ngawi, menjadi pelanggan paling setia yang memborong ribuan drum janggelan ini untuk didistribusikan kembali ke pasar-pasar tradisional.
Namun Yang membuat dapur Dina istimewa bukan hanya soal angka penjualannya, melainkan jejak yang ia tinggalkan. Di sini, tidak ada kata “limbah”.
“Ampas dari rebusan daun ini tidak kami buang sia-sia. Justru ini jadi pupuk organik yang sangat bagus. Biasanya tetangga-tetangga sekitar sini yang ambil untuk dipakai memupuk tanaman atau sawah mereka. Jadi, usaha jalan, lingkungan tetap bersih, dan tetangga juga dapat manfaatnya,” tambah Dina.
Inilah kemanisan yang paripurna. Usaha berjalan, ekonomi warga terangkat, dan lingkungan tetap terjaga.
Kisah dari rumah Dina di Tanjungsari ini menjadi pengingat bahwa kesegaran yang kita nikmati di meja makan saat berbuka puasa, lahir dari dedikasi yang luar biasa.
Di balik warna hitam pekat dan tekstur kenyalnya, ada tumpukan 10 ton bahan yang diproses dengan peluh, ada 12 pasang tangan yang bekerja tanpa lelah, dan ada kearifan lokal yang menjaga alam melalui pemanfaatan ampas menjadi pupuk.
Janggelan Tanjungsari bukan sekadar komoditas ekonomi yang berpindah dari Magetan ke kota lain dalam ribuan drum. Ia adalah simbol ketekunan seorang ibu yang mampu menggerakkan ekonomi warga sekitar sekaligus menjaga tradisi kuliner Ramadhan tetap hidup.
Maka, saat sesendok janggelan dingin menyentuh lidah Anda sore nanti, ingatlah bahwa di dalamnya terkandung proses berjam-jam dan semangat “zero waste” yang menghidupi banyak kepala. Sebuah kemanisan yang paripurna, dari hulu hingga ke hilir.(Diskominfo / kontrib.tik / fa2 /





