Dari Lapak Waginem untuk Magetan: Menjaga Tradisi Industri Bambu Tetap Hidup

Di antara kesahajaam suasana pasar di kawasan Pasar Kalang Kidul, senyum Waginem (65) tetap mengembang meski beban di pundaknya tak lagi ringan.

Di antara deretan batang bambu yang memanjang, wanita yang akrab disapa Waginem ini menunjukkan bahwa usia hanyalah angka. Baginya, setiap bilah bambu adalah simbol martabat dan kemandirian yang telah ia jaga selama 15 tahun terakhir.

Sejak 2011, Waginem memilih pasar ini sebagai ruang baktinya. Ia tidak berjuang sendiri; suaminya setia mendampingi di lapak sebelah, menjajakan dagangan serupa.

Dari berjualan bambu yang terkadang ramai kadang sepi Waginem tetap bertahan, dari setiap batang bambu yang berhasil ia tawarkan, keuntungan yang masuk ke kantongnya berkisar antara Rp1.500 hingga Rp2.500.

Angka yang mungkin nampak kecil bagi sebagian orang, namun bagi Waginem, setiap rupiahnya adalah keberkahan yang menghidupi dapur rumahnya. Baginya, bisa tetap bekerja secara mandiri tanpa merepotkan orang lain adalah sebuah kemenangan di usia 65 tahun.

Keberadaan lapak sederhana Waginem di Pasar Kalang Kidul turut membantu ekonomi daerah bergerak. Bambu adalah hulu dari napas kerajinan anyaman di Kabupaten Magetan. Dimana dari , bilah-bilah bambu yang ia jual kemudian memggerakkan jantung industri kreatif di Kabupaten Magetan. Dari tangan para pedagang tradisional inilah, bahan baku mengalir ke rumah-rumah perajin untuk disulap menjadi produk ikonik.

Dari bambu-bambu pilihan inilah lahir kerajinan khas yang menjadi identitas wilayah, mulai dari caping (topi petani) yang melindungi para pekebun di lereng Lawu, hingga besek dan berbagai anyaman alat rumah tangga lainnya.

Disini setiap batang bambu yang berpindah tangan di lapak Waginem secara tidak langsung turut memastikan eksistensi kerajinan tradisional Kabupaten Magetan tetap terjaga dan tidak punah ditelan zaman.

Lewat Waginem yang seorang pedagang bambu di sudut pasar, di pundaknya, identitas budaya Magetan bersandar. Dari tangannya, pasokan bahan baku terus mengalir, untuk memastikan caping-caping tetap teranyam dan besek-besek tetap tercipta.(Diskominfo / kontrib.tik / fa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *