Tumpukan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sering menjadi sumber masalah lingkungan, berupa polusi udara dan aroma yang menyengat.
Menyikapi hal tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magetan menghadirkan solusi inovatif yang berbasis alam: memanfaatkan tanaman Lidah Mertua (Sansevieria) sebagai penyerap polutan alami yang akan disebarkan di seluruh TPA di wilayah Magetan.
Bukan sekadar penataan tanaman biasa, inovasi ini adalah jawaban atas keluhan klasik masyarakat sekitar TPA mengenai aroma tak sedap dan penurunan kualitas udara akibat tumpukan sampah yang membusuk.
DLH Kabupaten Magetan memilih Sansevieria bukan tanpa alasan. Di balik tampilannya yang kaku dan minim perawatan, tanaman ini adalah mesin pemurni udara alami yang luar biasa.
Berbeda dengan mayoritas tanaman lain.
Lidah Mertua mampu menyerap karbon monoksida, nikotin, serta racun-racun berbahaya lainnya, dan tetap memproduksi oksigen bahkan di malam hari.
“Kami ingin mengubah wajah TPA. Dari yang tadinya identik dengan kesan kotor dan bau, menjadi kawasan yang lebih hijau dan fungsional secara ekologis,” ujar Eni, Sekertaris DLH Kabupaten Magetan.
“Lidah mertua ini adalah solusi nature-based yang efisien. Ia bekerja 24 jam menyaring udara racun hasil aktivitas sampah.Kami sedang mengembangkan proyek ini, Magetan nanti akan jadi pionirnya”lanjutnya.
Sebagai langkah awal inovasi ini, DLH Kabupaten Magetan telah memusatkan kegiatan pembibitan dan propagation Lidah Mertua di lokasi strategis, yaitu di Pusat Pembibitan DLH yang berlokasi di Kelurahan Bulukerto.
Di lokasi inilah, ratusan bibit Lidah Mertua dipersiapkan dan dirawat intensif sebelum akhirnya disebar dan ditanam di berbagai TPA di Magetan. Pemilihan lokasi di Bulukerto ini memudahkan pengawasan dan memastikan bibit yang dihasilkan berkualitas prima untuk dijadikan benteng pertahanan melawan polusi.
Inovasi ini akan diimplementasikan secara masif. DLH Magetan tengah memacu proses pembibitan mandiri sebelum bibit-bibit tersebut disebarkan dan ditanam rapat di sekeliling area TPA.
Tujuannya jelas, untuk menciptakan Green Belt atau benteng hijau. Vegetasi rapat ini diproyeksikan menjadi penyaring fisik dan biologis yang meminimalisir penyebaran bau tak sedap ke pemukiman warga terdekat, sekaligus memperbaiki ekosistem mikro di sekitar tempat pembuangan akhir.
Program ini diharapkan tidak hanya memberikan dampak instan pada kualitas udara, tetapi juga menjadi model percontohan bagi pengelolaan lingkungan berbasis alam di tempat lain.
Dengan sentuhan inovasi ini, DLH Magetan berusaha membuktikan bahwa dengan pendekatan yang tepat, lokasi yang dianggap menjadi sumber masalah justru bisa diubah menjadi bagian dari solusi lingkungan.(Diskominfo / kontrib.tik / fa2 /

